Kamis, 14 Mei 2020


Bab VIII  Elemen Dasar Mengajar
A.    Ranah Belajar
Belajar adalah suatau upaya pembelajar untuk mengembangkan seluruh kepribadiannya, baik fisik maupun psikis. Belajar juga dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh aspek intelegensi sehingga anak didik akan menjadi manusia yang utuh, cerdas secara intelegensi, cerdas secara emosi, cerdas psikomotornya, dam memiliki keterampilan hidup yang bermakna bagi dirinya.
Menurut Bloom, pendidikan seharusnya berfokus kepada penguasaan pokok bahasan (mastery subject) dan pencapaian hasil berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) sebagai kritik terhadap pandangan para utilitarian (aliran yang menekankan kegunaan belajar) yang semata-mata memaksudkan belajar sebagai sarana untuk mentransfer fakta-fakta.
Taksonomi sendiri berarti suatu humpunan dari prinsip-prinsip klasifikasi atau suatu struktur klasifikasi, sedangkan domain bermakna kategori. Masing-maisng kategori secara urut menunjukan derajat kesukarannya, dari derajat terendah (low order thinking) menuju ke derajat kesukaran yang tinggi (higher order thinking). Premis utama dalam taksonomi Bloom adalah bahwa setiap kategori harus dikuasai oleh siswa secara tuntas (mastery) dulu sebelum menuju kategori berikutnya.
Taksonomi Bloom memusatkan perhatian terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini masing-masing sesuai dengan pengertian cognitive atau kapabilitas intelektual yang semakna dengan pengetahuan, mengetahui, berpikir, atau intelek. Affective semakna dengan perasaan, emosi, dan perilaku, terkait dengan perilaku menyikapi, bersikap atau merasa, dan merasakan. Sedangkan Psychomotor semakna dengan aturan dan keterampilan fisik, terampil dan melakukan.
Bloom dan kawan-kawan mengembangkan ranah kognitif menjadi enam kelompok, yang tersusun secara hirearkis mulai dari kemampuan yang paling rendah (lower order thinking) samapi kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), yaitu: (1) knowledge, (2) comprehension, (3) application-ketiganya termasuk lower order thinking, dan (4) analysis, (5) synthesis, dan evaluation yang termasuk dalam higher order thinking.
B.     Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup menurut WHO meliputi kecakapan psiko-sosial yang menentukan nilai-nilai perilaku, termasuk pula kecakapan reflektif seperti kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis, kecakapan personal seperti kesadaran diri (self awareness) dan kecakapan antarpersonal. Dengan memilkiman menerapkan kecakapan hidup seseorang akan dipandu menuju suatu kualitas yang meliputi antara lain; kepemilikan harga diri (self esteem), berprilaku sosial (sosialibilitas) dan bertoleransi, sampai kepada kepemilikan untuk berbuat dan berpartisipasi aktif, membangkitkan semangat untuk berubah, kemampuan bebas untuk menentukan apa yang harus dan tidak dilakukannya, dan kecakapan untuk menetapkan sendiri akan menajdi siapa dia.
Dalam kaitan ini disampaikan pendapat dari Susan Kovalick (1992) tentang berbagai kecakapan hidup yang seyogyanya dikuasai oleh siswa, sebagai berikut.
1.      Integritas, jujur, tulus hati dan menunjukan prinsip-prinsip moral yang kuat.
2.      Inisiatif, melakukan sesuatu karena memang perlu dilakukan.
3.      Fleksibelitas, kemampuan mengubah rencana jika diperlukan.
4.      Tanggunh, tabah, tahan uji, terus melakukan kegiatan walau menjumpai kesulitan.
5.      Mengorganisasikan, merencanakan, menyusun dan mengimplementasikan dalam cara yang teratur.
6.      Rasa humor, senang tertawa dan suka bermain tanpa menyakiti orang lain.
7.      Kesanggupan, dan daya upaya, cobalah sekuat tenaga.
8.      Masuk akal, menggunakan pertimbangan yang bijaksana.
9.      Memecahkna masalah, mencari penyelesaian dalam situasi sulit.
10.  Bertanggung jawab, mempertanggungjawabkan kegiatan atau tindakan.
11.  Sabar, menunggu dengan sabar terhadap seseorang atau sesuatu.
12.  Bersahabat, menjalin dan mempertahankan persahabatan melalui saling percaya dan saling memperhatikan.
13.  Kuriositas, rasa ingin tahu, keinginan kuat untuk belajar atau mengetahui tentang segala sesuatu.
14.  Kerja keras, bekerja sama menuju tujuan bersama dalam suatu tim.
15.  Peduli, merasa simpati dan empati terhadap orang lain.
Kurikulum kecakapan hidup yang ditawarkan (untuk pelatihan) terutama ditekankan kepada keterampilan hidup yang diperlukan agar sukses dalam dunia kerja (life skills for vocational succes). Kurikulum pendidikan kecakapan hidup antara lain meliputi:
1.      Kecakapan Sosial (Social Skills) meliputi kecakapan berkomunikasi, pengelolaan marah (anger management), dan resolusi konflik.materi yang sering juga dilatihkan adalah membangun persahabatan, berhidupan bersama dengan rekan kerja, dengan teman sekamar, bagaimana cara membantu orang lain dan sebagainya;
2.      Kecakapan membuat keputusan (Decision Making Skills), meliputi kecakapan memecahkan masalah dan membuat keputusan yang baik dan efektif;
3.      Kecakapan sebagai pekerja (Employability) meliputi bekerja tepat waktu, memahami prosedur baku, cara menggunakan peralatan dan perlengkapan kerja dengan baik, batasan perilaku seksual di tempat kerja untuk mencegah pelecehan seksual, keamanan kerja, produktivitas, sikap kerja dan tindakan yang sesuai di tempat kerja;
4.      Manajemen keuangan, meliputi pemahaman terhadap keuntungan bekerja, penyusunan anggaran, cara menggunakan bank, menggunakan kredit, pemahaman tentang perpajakan.
5.      Manajemen transportasi, dimulai dari pemilihan wahana transportasi, cara-cara untuk memilih dan membeli kendaraan, cara mengendarai kendaraan, yang hemat energi, aman, tertib, berlintas-lintas dan sebaganya;
6.      Manajemen kesehatan, terutama ditekankan kepada cara mempertahankan gaya hidup seperti cara menjauhkan diri dari penyakit, cara diet dan mengatur menu sehat, mempertahankan kesegaran jasmani, bahaya penggunaan alkohol dan obat-obatan, penggunaan asuransi kesehatan, pemeilihan layanan medis;
7.      Manajemen keluarga, meliputi pemahaman terhadap kehamilan, perawatan anak yang aman, tanggung jawab menghadapi keluarga yang sakit, orang tua da anggota keluarga yang cacat;
8.      Kecakapan memahami hukum (Understanding of the low), pemahaman hukum-hukum secara umum termasuk tentang bagaimana menggunakan jasa pengacara, pemahaman tentang undang-undang lalu lintas, peraturan daerah setempat;
9.      Kecakapan bertelepon (Telephone Skills), cara menggunakan telepon dengan baik (menerima dan membuat panggilan telepon), cara meminta informasi melalui telepon, cara melakukan interlokal atau sambungan jarak jauh.
Selanjutnya, pada akhir-akhir ini berkembang konsep yang disebut soft skill dan hard skill. Soft skill didefinisikan sebagai perilaku personal dan antarpersonal yang meamksimalkan kinerja seseorang, sedangkan hard skill didefinisikan seluruh keterampilan formal yang diperoleh dibangku sekolah (didalam kelas, laboratorium, bengkel sekolah, dan lokasi pembelajaran formal lainnya).
Jika melihat pembagian kecakapan hidup menurut mukhlas samani maka hard skill akan meliputi kecakapan akademik dan kecakapan vokasional (yang diperoleh disekolah), atau kecakapan spesifik (specifik life skill, SLS) sedangkan soft skill ekivalen dengan kecakapan personal dan kecakapan sosial atau kecakapan generik (generik life skill GSL). Sementara itu Career Opportunities News (2002) menyatakan bahwa soft skill terkait dengan kecakapan emosional (EQ) seseorang, sedangkan hard skill terkait dengan kecakapan intelegensi (IQ) seseorang.