Bab VIII Elemen Dasar
Mengajar
A.
Ranah
Belajar
Belajar adalah suatau upaya
pembelajar untuk mengembangkan seluruh kepribadiannya, baik fisik maupun
psikis. Belajar juga dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh aspek intelegensi
sehingga anak didik akan menjadi manusia yang utuh, cerdas secara intelegensi,
cerdas secara emosi, cerdas psikomotornya, dam memiliki keterampilan hidup yang
bermakna bagi dirinya.
Menurut Bloom, pendidikan seharusnya
berfokus kepada penguasaan pokok bahasan (mastery subject) dan
pencapaian hasil berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) sebagai kritik
terhadap pandangan para utilitarian (aliran yang menekankan kegunaan belajar)
yang semata-mata memaksudkan belajar sebagai sarana untuk mentransfer
fakta-fakta.
Taksonomi sendiri berarti suatu
humpunan dari prinsip-prinsip klasifikasi atau suatu struktur klasifikasi,
sedangkan domain bermakna kategori. Masing-maisng kategori secara urut
menunjukan derajat kesukarannya, dari derajat terendah (low order thinking)
menuju ke derajat kesukaran yang tinggi (higher order thinking). Premis utama
dalam taksonomi Bloom adalah bahwa setiap kategori harus dikuasai oleh siswa
secara tuntas (mastery) dulu sebelum menuju kategori berikutnya.
Taksonomi Bloom memusatkan perhatian
terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini masing-masing sesuai
dengan pengertian cognitive atau kapabilitas intelektual yang semakna
dengan pengetahuan, mengetahui, berpikir, atau intelek. Affective semakna
dengan perasaan, emosi, dan perilaku, terkait dengan perilaku menyikapi,
bersikap atau merasa, dan merasakan. Sedangkan Psychomotor semakna dengan
aturan dan keterampilan fisik, terampil dan melakukan.
Bloom dan kawan-kawan mengembangkan
ranah kognitif menjadi enam kelompok, yang tersusun secara hirearkis mulai dari
kemampuan yang paling rendah (lower order thinking) samapi kemampuan
berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), yaitu: (1) knowledge,
(2) comprehension, (3) application-ketiganya termasuk lower order thinking,
dan (4) analysis, (5) synthesis, dan evaluation yang termasuk dalam higher
order thinking.
B.
Kecakapan
Hidup
Kecakapan hidup menurut WHO meliputi
kecakapan psiko-sosial yang menentukan nilai-nilai perilaku, termasuk pula
kecakapan reflektif seperti kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis,
kecakapan personal seperti kesadaran diri (self awareness) dan kecakapan
antarpersonal. Dengan memilkiman menerapkan kecakapan hidup seseorang akan
dipandu menuju suatu kualitas yang meliputi antara lain; kepemilikan harga diri
(self esteem), berprilaku sosial (sosialibilitas) dan
bertoleransi, sampai kepada kepemilikan untuk berbuat dan berpartisipasi aktif,
membangkitkan semangat untuk berubah, kemampuan bebas untuk menentukan apa yang
harus dan tidak dilakukannya, dan kecakapan untuk menetapkan sendiri akan
menajdi siapa dia.
Dalam kaitan ini disampaikan
pendapat dari Susan Kovalick (1992) tentang berbagai kecakapan hidup yang
seyogyanya dikuasai oleh siswa, sebagai berikut.
1.
Integritas,
jujur, tulus hati dan menunjukan prinsip-prinsip moral yang kuat.
2.
Inisiatif,
melakukan sesuatu karena memang perlu dilakukan.
3.
Fleksibelitas,
kemampuan mengubah rencana jika diperlukan.
4.
Tanggunh,
tabah, tahan uji, terus melakukan kegiatan walau menjumpai kesulitan.
5.
Mengorganisasikan,
merencanakan, menyusun dan mengimplementasikan dalam cara yang teratur.
6.
Rasa
humor, senang tertawa dan suka bermain tanpa menyakiti orang lain.
7.
Kesanggupan,
dan daya upaya, cobalah sekuat tenaga.
8.
Masuk
akal, menggunakan pertimbangan yang bijaksana.
9.
Memecahkna
masalah, mencari penyelesaian dalam situasi sulit.
10.
Bertanggung
jawab, mempertanggungjawabkan kegiatan atau tindakan.
11.
Sabar,
menunggu dengan sabar terhadap seseorang atau sesuatu.
12.
Bersahabat,
menjalin dan mempertahankan persahabatan melalui saling percaya dan saling
memperhatikan.
13.
Kuriositas,
rasa ingin tahu, keinginan kuat untuk belajar atau mengetahui tentang segala sesuatu.
14.
Kerja
keras, bekerja sama menuju tujuan bersama dalam suatu tim.
15.
Peduli,
merasa simpati dan empati terhadap orang lain.
Kurikulum kecakapan hidup yang
ditawarkan (untuk pelatihan) terutama ditekankan kepada keterampilan hidup yang
diperlukan agar sukses dalam dunia kerja (life skills for vocational succes).
Kurikulum pendidikan kecakapan hidup antara lain meliputi:
1.
Kecakapan
Sosial (Social Skills) meliputi kecakapan berkomunikasi, pengelolaan
marah (anger management), dan resolusi konflik.materi yang sering juga
dilatihkan adalah membangun persahabatan, berhidupan bersama dengan rekan
kerja, dengan teman sekamar, bagaimana cara membantu orang lain dan sebagainya;
2.
Kecakapan
membuat keputusan (Decision Making Skills), meliputi kecakapan
memecahkan masalah dan membuat keputusan yang baik dan efektif;
3.
Kecakapan
sebagai pekerja (Employability) meliputi bekerja tepat waktu, memahami
prosedur baku, cara menggunakan peralatan dan perlengkapan kerja dengan baik,
batasan perilaku seksual di tempat kerja untuk mencegah pelecehan seksual,
keamanan kerja, produktivitas, sikap kerja dan tindakan yang sesuai di tempat
kerja;
4.
Manajemen
keuangan, meliputi pemahaman terhadap keuntungan bekerja, penyusunan anggaran,
cara menggunakan bank, menggunakan kredit, pemahaman tentang perpajakan.
5.
Manajemen
transportasi, dimulai dari pemilihan wahana transportasi, cara-cara untuk
memilih dan membeli kendaraan, cara mengendarai kendaraan, yang hemat energi,
aman, tertib, berlintas-lintas dan sebaganya;
6.
Manajemen
kesehatan, terutama ditekankan kepada cara mempertahankan gaya hidup seperti
cara menjauhkan diri dari penyakit, cara diet dan mengatur menu sehat,
mempertahankan kesegaran jasmani, bahaya penggunaan alkohol dan obat-obatan,
penggunaan asuransi kesehatan, pemeilihan layanan medis;
7.
Manajemen
keluarga, meliputi pemahaman terhadap kehamilan, perawatan anak yang aman,
tanggung jawab menghadapi keluarga yang sakit, orang tua da anggota keluarga
yang cacat;
8.
Kecakapan
memahami hukum (Understanding of the low), pemahaman hukum-hukum secara
umum termasuk tentang bagaimana menggunakan jasa pengacara, pemahaman tentang
undang-undang lalu lintas, peraturan daerah setempat;
9.
Kecakapan
bertelepon (Telephone Skills), cara menggunakan telepon dengan baik (menerima
dan membuat panggilan telepon), cara meminta informasi melalui telepon, cara
melakukan interlokal atau sambungan jarak jauh.
Selanjutnya, pada akhir-akhir ini
berkembang konsep yang disebut soft skill dan hard skill. Soft skill
didefinisikan sebagai perilaku personal dan antarpersonal yang meamksimalkan
kinerja seseorang, sedangkan hard skill didefinisikan seluruh keterampilan
formal yang diperoleh dibangku sekolah (didalam kelas, laboratorium, bengkel
sekolah, dan lokasi pembelajaran formal lainnya).
Jika melihat pembagian kecakapan
hidup menurut mukhlas samani maka hard skill akan meliputi kecakapan akademik
dan kecakapan vokasional (yang diperoleh disekolah), atau kecakapan spesifik (specifik
life skill, SLS) sedangkan soft skill ekivalen dengan kecakapan personal
dan kecakapan sosial atau kecakapan generik (generik life skill GSL).
Sementara itu Career Opportunities News (2002) menyatakan bahwa soft skill
terkait dengan kecakapan emosional (EQ) seseorang, sedangkan hard skill terkait
dengan kecakapan intelegensi (IQ) seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar