BAB VI ELEMEN DASAR MENGAJAR
A.
Unsur
Belajar
Unsur-unsur belajar adalah faktor-faktor yang menjadi indikasi
keberlangsungan proses belajar. Cronbach sebagai penganut aliran behaviorisme
menyatakan dalam Sukmadinata adanya tujuh unsur utama dalam proses belajar,
yang meliputi: (1) Tujuan, (2) Kesiapan, (3) Situasi, (4) Interpretasi, (5)
Respon, (6) Konsekuensi, (7) Reaksi terhadap kegagalan. Sementara itu para
kontruktivis memaknai unsur-unsur belajar sebagai berikut.
(1)
Tujuan
belajar, (2) Proses belajar, (3) Hasil belajar
B.
Prinsip
Umum Belajar
Sebagai simpulannya terhadap berbagai prinsip belajar baik menurut
konsep behaviorisme, kognitivisme maupun konstruktivisme, Sukmadinata
menyampaikan prinsip umum belajar sebagai berikut.
1.
Belajar
merupakan bagian dari perkembangan.
2.
Belajar
berlangsung seumur hidup
3.
Keberhasilan
belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan, serta
usaha dari individu secara aktif.
4.
Belajar
mencakup semua aspek kehidupan.
5.
Kegiatan
belajar berlangsung di sembarangan tempat dan waktu.
6.
Belajar
berlangsung baik dengan guru maupun tanpa guru.
7.
Belajar
yang terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.
8.
Perbuatan
belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang amat kompleks.
9.
Dalam
belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.
10.
Dalam
hal tertentu belajar memerlukan adanya bantuan dan bimbingan dari orang lain.
C.
Tipe
Belajar
1.
Belajar
Berlandaskan Behaviorisme
Tipe-tipe
belajar yang dilandasi behaviorisme antara lain sebagai berikut.
a.
Belajar
Sederhana Tanpa Asosiasi
Ada dua macam,
yaitu habituasi sensitisasi. Belajar dengan habituasi ditengarai oleh adanya
pengurangan probabilitas perilaku respon secara progresif dengan
pelatihan-pelatihan dan pengulangan stimulus. Belajar dengan cara sensitiasi
merupakan kebalikannya, akan terjadi penguatan positif terhadap perilaku respon
karena pelatihan atau pengulangan.
b.
Balajar
Asosiasi
Belajar
asosiasi adalah suatu proses dimana suatu materi pembelajaran dipelajari
melalui asosiasi dengan bahan-bahan pembelajaran yang terpisah yang sudah
dipelajari sebelumnya.
c.
Pengkondisian
klasik (Classical Conditioning)
Belajar
merupakan suatu upaya untuk mengondisikan pembentukan suatu perilaku atau
respon terhadap sesuatu.
d.
Pengondisian
Operan (Operant Conditioning)
Pengondisian
operan terkait dengan modifikasi perilaku spontan.
e.
Belajar
Melalui Kesan (Imprinting)
Istilah ini
digunakan untuk menggambarkan keadaan pada saat seesorang mempelajari
karakteristik sejumlah stimulus, yang disebut menaruh kesan (imprited)
terhadap sesuatu subjek.
f.
Belajar
Pengamatan (Observational Learning)
Seseorang
mengulangi perilaku yang diamatinya dari orang lain.
g.
Belajar
Melalui Bermain
Bermain
dinyatakan sebagai suatu perilaku yang tidak memiliki tujuan khusus, tetapi
mampu memperbaiki kinerja manusia jika menjumpai kondisi yang mirip seperti itu
pada masa depan.
h.
Belajar
Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas
adalah suatu upaya belajar dengan penekanan siswa harus menguasai seluruh bahan
ajar.
2.
Belajar
yang Dilandasi Kognitivisme dan Konstruktivisme
Bentuk-bentuk
atau tipe belajar menurut paham konstruktivisme ini antara lain:
a.
Belajar
Melalui Pembudayaan (Enculturation)
Pembudayaan
adalah suatu proses dimana seseorang belajar tentang sesuatu yang diperlukan
oleh budaya yang mengelilingi kehidupannya, sehingga dia memperoleh nilai-nilai
dan perilaku yang sesuai dan diperlukan dalam budaya semacam itu.
b.
Belajar
Menurut David P. Ausubel dan Floyd G. Robinson (1969)
1)
Reception Learning (Belajar Menerima)
Belajar jenis
ini lebih berpusat kepada guru, bahan pelajaran disusun dan disiapkan dalam
bentuk jadi serta disampaikan oleh guru. Murid tinggal menerima. pasif, copy
paste terhadap apa yang disampaikan oleh guru, mereka menghafal dan mencoba
memahami apa yang disampaikan guru.
2)
Rote Learning (Belajar Menghafal)
Belajar
menghafal adalah suatu teknik pembelajaran yang mengabaikan pemahaman yang
mendalam dan kompleks serta inferensi dari subyek yang dipelajari.
3)
Discovery Learning (Belajar Menemukan)
Ada yang
menyebutnya sebagai belajar inkuiri (inquiry learning), yaitu suatu
kegiatan belajar yang mengemukakan aktivitas anak. Inkuiri menekankan kepada
proses mencarinya, sedangkan diskaveri (menemukan) menekankan kepada
penemuannya.
4)
Meaningful Learning (Belajar Bermakna)
Dalam belajar
bermakna ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, karakteristik
bahan yang dipelajari, kedua adalah struktur kognitif dari individu pembelajar.
3.
Hierarki
Belajar Menurut Robert M. Gagne
Dalam bukunya
yang berjudul The Conditions of Learning (1970), Gagne mengemukakan
delapan macam jenis belajar yang membentuk suatu hierarki belajar bertahap dari
yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks, yang meliputi:
1)
Signal
Learning, atau belajar isyarat.
2)
Stimulus-Respons
learning, belajar rangsangan-tanggapan.
3)
Chaining,
rantai perbuatan.
4)
Verbal
association, asosiasi verbal.
5)
Discrimination
learning, belajar membedakan.
6)
Concept learning, belajar
konsep.
7)
Rule
learning, belajar aturan-aturan, kaidah-kaidah
dan hukum-hukum.
8)
Problem
solving learning, belajar pemecahan masalah.
4.
Pembelajaran
Multimedia (Multimedia Learning)
Belajar jenis
ini pada hakikatnya menggunakan berbagai lingkungan belajar sebagai multimedia
5.
Belajar
Berbasis Internet dan Belajar yang Diperkaya (E-learning and Augmented
Learning)
Belajar jenis
ini dilakukan dengan bantuan alat elektronik atau tepatnya menggunakan jaringan
komputer berbasis internet.
6.
Jenis
Belajar Berlandaskan Perkembangan Konsepsi
a.
Perkembangan
Konseptual (conceptual development)
b.
Resolusi
Konseptual (conceptual revolution)
c.
Pertukaran
Konseptual (conceptual exchange)
d.
Model
Generatif (generative model)
e.
Perubahan
Konseptual (conceptual change)
7.
Jenis
Belajar Berdasarkan Jenis Pengorganisasian
a.
Belajar
Informal
Belajar yang
dilaksanakan di luar situasi persekolahan.
b.
Belajar
Formal
Berlangsung dalam
situasi hubungan guru dengan murid
c.
Belajar
Nonformal
Belajar ini terorganisasi,
tetapi diluar sistem sekolah, misalnya di kursus-kursus.
d.
Belajar
Nonformal yang Dikombinasi (combined Approach)
Dalam hal ini
dapat digunakan belajar nonformal, belajar formal, dan belajar informal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar