Rabu, 01 April 2020


BAB VI ELEMEN DASAR MENGAJAR

A.    Unsur Belajar
Unsur-unsur belajar adalah faktor-faktor yang menjadi indikasi keberlangsungan proses belajar. Cronbach sebagai penganut aliran behaviorisme menyatakan dalam Sukmadinata adanya tujuh unsur utama dalam proses belajar, yang meliputi: (1) Tujuan, (2) Kesiapan, (3) Situasi, (4) Interpretasi, (5) Respon, (6) Konsekuensi, (7) Reaksi terhadap kegagalan. Sementara itu para kontruktivis memaknai unsur-unsur belajar sebagai berikut.
(1)   Tujuan belajar, (2) Proses belajar, (3) Hasil belajar
B.     Prinsip Umum Belajar
Sebagai simpulannya terhadap berbagai prinsip belajar baik menurut konsep behaviorisme, kognitivisme maupun konstruktivisme, Sukmadinata menyampaikan prinsip umum belajar sebagai berikut.
1.      Belajar merupakan bagian dari perkembangan.
2.      Belajar berlangsung seumur hidup
3.      Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan, serta usaha dari individu secara aktif.
4.      Belajar mencakup semua aspek kehidupan.
5.      Kegiatan belajar berlangsung di sembarangan tempat dan waktu.
6.      Belajar berlangsung baik dengan guru maupun tanpa guru.
7.      Belajar yang terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.
8.      Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang amat kompleks.
9.      Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.
10.  Dalam hal tertentu belajar memerlukan adanya bantuan dan bimbingan dari orang lain.
C.     Tipe Belajar
1.      Belajar Berlandaskan Behaviorisme
Tipe-tipe belajar yang dilandasi behaviorisme antara lain sebagai berikut.
a.       Belajar Sederhana Tanpa Asosiasi
Ada dua macam, yaitu habituasi sensitisasi. Belajar dengan habituasi ditengarai oleh adanya pengurangan probabilitas perilaku respon secara progresif dengan pelatihan-pelatihan dan pengulangan stimulus. Belajar dengan cara sensitiasi merupakan kebalikannya, akan terjadi penguatan positif terhadap perilaku respon karena pelatihan atau pengulangan.
b.      Balajar Asosiasi
Belajar asosiasi adalah suatu proses dimana suatu materi pembelajaran dipelajari melalui asosiasi dengan bahan-bahan pembelajaran yang terpisah yang sudah dipelajari sebelumnya.
c.       Pengkondisian klasik (Classical Conditioning)
Belajar merupakan suatu upaya untuk mengondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.
d.      Pengondisian Operan (Operant Conditioning)
Pengondisian operan terkait dengan modifikasi perilaku spontan.
e.       Belajar Melalui Kesan (Imprinting)
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan keadaan pada saat seesorang mempelajari karakteristik sejumlah stimulus, yang disebut menaruh kesan (imprited) terhadap sesuatu subjek.
f.        Belajar Pengamatan (Observational Learning)
Seseorang mengulangi perilaku yang diamatinya dari orang lain.
g.      Belajar Melalui Bermain
Bermain dinyatakan sebagai suatu perilaku yang tidak memiliki tujuan khusus, tetapi mampu memperbaiki kinerja manusia jika menjumpai kondisi yang mirip seperti itu pada masa depan.
h.      Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas adalah suatu upaya belajar dengan penekanan siswa harus menguasai seluruh bahan ajar.
2.      Belajar yang Dilandasi Kognitivisme dan Konstruktivisme
Bentuk-bentuk atau tipe belajar menurut paham konstruktivisme ini antara lain:
a.       Belajar Melalui Pembudayaan (Enculturation)
Pembudayaan adalah suatu proses dimana seseorang belajar tentang sesuatu yang diperlukan oleh budaya yang mengelilingi kehidupannya, sehingga dia memperoleh nilai-nilai dan perilaku yang sesuai dan diperlukan dalam budaya semacam itu.
b.      Belajar Menurut David P. Ausubel dan Floyd G. Robinson (1969)
1)      Reception Learning (Belajar Menerima)
Belajar jenis ini lebih berpusat kepada guru, bahan pelajaran disusun dan disiapkan dalam bentuk jadi serta disampaikan oleh guru. Murid tinggal menerima. pasif, copy paste terhadap apa yang disampaikan oleh guru, mereka menghafal dan mencoba memahami apa yang disampaikan guru.
2)      Rote Learning (Belajar Menghafal)
Belajar menghafal adalah suatu teknik pembelajaran yang mengabaikan pemahaman yang mendalam dan kompleks serta inferensi dari subyek yang dipelajari.
3)      Discovery Learning (Belajar Menemukan)
Ada yang menyebutnya sebagai belajar inkuiri (inquiry learning), yaitu suatu kegiatan belajar yang mengemukakan aktivitas anak. Inkuiri menekankan kepada proses mencarinya, sedangkan diskaveri (menemukan) menekankan kepada penemuannya.
4)      Meaningful Learning (Belajar Bermakna)
Dalam belajar bermakna ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, karakteristik bahan yang dipelajari, kedua adalah struktur kognitif dari individu pembelajar.
3.      Hierarki Belajar Menurut Robert M. Gagne
Dalam bukunya yang berjudul The Conditions of Learning (1970), Gagne mengemukakan delapan macam jenis belajar yang membentuk suatu hierarki belajar bertahap dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks, yang meliputi:
1)      Signal Learning, atau belajar isyarat.
2)      Stimulus-Respons learning, belajar rangsangan-tanggapan.
3)      Chaining, rantai perbuatan.
4)      Verbal association, asosiasi verbal.
5)      Discrimination learning, belajar membedakan.
6)      Concept  learning, belajar konsep.
7)      Rule learning, belajar aturan-aturan, kaidah-kaidah dan hukum-hukum.
8)      Problem solving learning, belajar pemecahan masalah.
4.      Pembelajaran Multimedia (Multimedia Learning)
Belajar jenis ini pada hakikatnya menggunakan berbagai lingkungan belajar sebagai multimedia
5.      Belajar Berbasis Internet dan Belajar yang Diperkaya (E-learning and Augmented Learning)
Belajar jenis ini dilakukan dengan bantuan alat elektronik atau tepatnya menggunakan jaringan komputer berbasis internet.
6.      Jenis Belajar Berlandaskan Perkembangan Konsepsi
a.       Perkembangan Konseptual (conceptual development)
b.      Resolusi Konseptual (conceptual revolution)
c.       Pertukaran Konseptual (conceptual exchange)
d.      Model Generatif (generative model)
e.       Perubahan Konseptual (conceptual change)
7.      Jenis Belajar Berdasarkan Jenis Pengorganisasian
a.       Belajar Informal
Belajar yang dilaksanakan di luar situasi persekolahan.
b.      Belajar Formal
Berlangsung dalam situasi hubungan guru dengan murid
c.       Belajar Nonformal
Belajar ini terorganisasi, tetapi diluar sistem sekolah, misalnya di kursus-kursus.
d.      Belajar Nonformal yang Dikombinasi (combined Approach)
Dalam hal ini dapat digunakan belajar nonformal, belajar formal, dan belajar informal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar