BAB IV TEORI BELAJAR
A.
Kognitivisme
Sesungguhnya kognitivisme lahir
merupakan respon terhadap behaviorisme, diawali oleh publikasi pada tahun 1929
oleh Bode, seorang ahli psikologi gestalt. Ia mengeritik behaviorisme karena
kebergantungannya kepada perilaku yang diamati untuk menjelaskan pembelajaran.
Pandangan gestalt tentang belajar dinyatakan dalam konsep pembelajaran yang
disebut teori kognitif. Dua kunci pendekatan kognitif adalah , (i) bahwa sistem
ingatan adalah suatu prosesor informasi yang aktif dan terorganisasi, (ii)
bahwa pengetahuan awal memerankan peranan penting dalam pembelajaran. Teori
kognitif mencermati hal-hal dibalik perilaku untuk menjelaskan pembelajaran
berbasis otak, (brain basid learning). Perbedaan pokok pada seorang
gestaltis dengan seorang behavioris, yaitu terletak pada lokasi kontrol , (the
locus of control) terhadap kegiatan pembelajaran. Bagi seorang gestaltis
terletak pada individu pembelajar, sedangkan bagi seorang behavioris terletak
pada lingkungan.
Teori belajar kognitif lebih
mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa
perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi
yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Model belajar kognitif merupakan,
suatu bentuk teori balajar yang sering disebut sebagai model perseptual.
Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat
terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori ini berpandangan bahwa belajar
merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengelolaan
informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang
melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2005 : 34).
Perspektif kognitif membagi jenis
pengetahuan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1.
Pengetahuan
deklaratif, yaitu pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam bentuk kata atau
disebut pula pengetahuan konseptual.
2.
Pengetahuan
prosedural, yaitu pengetahuan tentang tahap-tahap atau proses-proses yanng
harus dilakukan, atau pengetahuan tentang bagaimana melakukan (how to do)
3.
Pengetahuan
kondisional, yaitu pengetahuan tentang kapan dan mengapa (when and why)
suatu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural digunakan.
1.
Teori-Teori
Belajar Berbasis Kognitivisme
a.
Teori
Kognitif Gestalt
Dalam dunia
psikologi gastalt dimaknai sebagai kesatuan atau keseluruhan yang bermakna (a
unified or meaningful whole). Pokok pandangan gestalt adalah bahwa objek
dan peristiwa tertentu akan dipandang sebagai keseluruhan yang terorganisasi.
Menurut
pandangan ahli teori gestalt semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman
tentang adanya hubungan-hubungan terutama hubungan antara bagian terhadap
keseluruhan. Tingkat kejelasan dan kemaknaan terhadap apa yang diamati dalam
situasi belajar akan lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang daripada
melalui hukuman atau ganjaran.
b.
Teori
Belajar Medan Kognitif dari Kurt Lewin
Belajar
berlangsung sebagai akibat perubahan struktur kognitif. Perubahan struktur
kognitif itu merupakan hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan
kognitif itu sendiri, yang lain dari kebutuhan motivasi internal individu.
Implementasi
teori gestalt dalam pembelajaran, antara lain pada pengembangan konsep.
1)
Pengalaman
tilikan (insight)
2)
Pembelajaran
bermakna (meaningful learning)
3)
Perilaku
bertujuan (purposive behavior)
4)
Prinsip
ruang hidup (life space)
5)
Transfer
dalam belajar, pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi yang lain.
c.
Teori
Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Teori
perkembangan kognitif disebut pula teori perkembangan intelektual atau teori
perkembangan mental. Teori ini berkenaan dengan kesiapan anak belajar yang
dikemas dalam tahap-tahap perkembangan intelektual sejak lahir sampai dewasa.
Menurut Piaget perkembangan kognitif meruapakan suatu proses genetik, yaitu
suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf.
Dengan makin bertambahnya usia seseorang, maka makin komplekslah susunan sel
sarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Atas dasar pemikiran ini maka
Piaget disebut-sebut cenderung menganut teori psikogenesis, artinya pengetahuan
sebagai hasil belajar berasal dari dalam individu.
d.
Teori
Discovery Learning dari Jerome S. Bruner
Konsepnya
adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa
mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir
yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendidikan pada hakikatnya merupakan
proses penemuan personal (personal discovery), oleh setiap individu
murid.
Menurut Bruner
seiring dengan terjadinya pertumbuhan kognitif, para pembelajran harus melalui
tiga tahapan pembelajaran. Tiga tahapan perkembangan intelektual itu menurut
Bruner meliputi:
1)
Enaktif
(enactive) seseorang belajar tentang dunia melalui respon atau
reaksi-reaksi terhadap suatu objek.
2)
Ikonik
(iconic), pembelajaran terjadi melalui penggunaan model-model dan
gambar-gambar dan visualisasi verbal.
3)
Simbolik,
siswa sudah mampu menggambarkan kapasitas berpikir dalam istilah-istilah yang abstrak.
e.
Teori
Belajar dari Robert M. Gagne
Gagne
mengemukakan delapan macam tipe belajar yang membentuk suatu hierarki belajar
dari yang paling sederhan samapi dengan yang paling rumit. Berkaitan dengan
proses pembelajaran Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran
meliputi delapan fase, yaitu: (a) motivasi, (b) pemahaman, (c) pemerolehan, (d)
penyimpanan, (e) pengingatan kembali, (f) generalisasi, (g) perlakuan, dan (h)
umpan balik.
Sembilan
peristiwa pembelajaran menurut Gagne adalah sebagai berikut.
1)
Memberikan
perhatian (gain attention).
2)
Memberi
tahu siswa tentang tujuan pembelajaran ( inform learner of objectives).
3)
Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu (recall
prior knowledge).
4)
Menyajikan
pembelajaran sebagai rangsangan (present material).
5)
Memberikan
panduan belajar (provide guided learning).
6)
Menampilkan
kinerja (elicit performance).
7)
Memberikan
umpan balik (provide feedback).
8)
Menilai
kinerja (assess performance).
9)
Meningkatkan
retensi/ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer).
f.
Teori
Belajar Bermakna dari David P. Ausubel
Beberapa kunci
pandangan Ausubel adalah sebagai berikut.
1.
Teori
Subsumsi
Subsumption memiliki
makna menggolong-golongkan secara hierarkis. Melakukan subsumsi berarti
menjalankan suatu materi baru (dalam hal ini pengetahuan) ke dalam struktur
kognitif seseorang.
2.
Advanced
Organizer
Advance Organizer adalah suatu perangkat atau suatu pembelajaran mental yang
bertujuan membantu siswa didalam mengintegrasikan pengetahuan baru dengan
pengetahuan terdahulu, mengarah kepada pembelajaran bermakna sebagai lawan dari
pembelajaran dengan cara menghafal (rote memorization).
B.
Konstruktivisme
Konstruktivisme melandasi pemikirannya bahwa pengetahuan bukanlah
sesuatu yang given dari alam karena hasil kontak manusia dengan alam,
tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif manusia itu
sendiri. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif
kenyataan melalui kegiatan seseorang. Ia membentuk skema, kategori, konsep dan
struktur pengetahuan yang diperlukan.
1.
Teori
Belajar Konstruktivisme
a.
Teori
Konstruktivisme Piaget
Teori Piaget
berlandaskan gagasan bahwa perkembangan anak bermakna membangun struktur
kognitifnya atau peta mentalnya yang diistilahkan “schema/skema (jamak=
schemata/skemata)”, atau konsep jejaring untuk memahami dan menanggapi
pengalaman fisik dalam lingkungan dan sekelilingnya.
Tiga penekanan
dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut.
1)
Peran
aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna,
2)
Pentingnya
membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna,
3)
Mengaitkan
antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
b.
Teori
Konstruktivisme Sosial dari Vygotsky
Pembelajaran
kognisi sosial meyakini bahwa kebudayaan merupakan penentu utama bagi
pengembangan individu.
Beberapa kunci
pemikiran kognisi sosial dari Vygotsky antara lain adalah:
1)
Kebudayaan
menciptakan dua macam konstribusi terhadap perkembangan intelektual anak.
2)
Perkembangan
kognitif yang dihasilkan dari sebuah proses dialetika dimana seorang siswa
belajar melalui pengalaman
Berikut ini diberikan beberapa
konsep kunci dari teori konstruktvisme sosial, antara lain;
1)
Siswa
sebagai individu yang unik
2)
Self
Regulated Learner (Pembelajar yang Dapat Mengelola
Diri Sendiri)
3)
Tanggung
jawab Pembelajaran
4)
Motivasi
Pembelajaran
5)
Zona
Perkembangan (Zona of Development, ZD)
6)
Peran
Guru sebagai Fasilitator
7)
Interaksi
Dinamika antara Tugas-Tugas, Instruktur dan Pembelajar
8)
Kolaborasi
Antarpembelajar
9)
Pemagangan
Kognitif (Cognitive Apprenticeship)
10)
Proses
Top-Down (Proses dari Atas ke Bawah)
11)
Pembelajaran
Kooperatif sebagai implementasi Konstruktivisme
12)
Belajar
dengan cara mengajar (Learning by Teaching) sebagai Metode Konstruktivis
Prinsip dasar dari konstruktivisme
yang harus dipegang oleh pengajar adalah bahwa sisiwa lebih baik belajar dengan
berbuat (learning by doing) daripada belajar dengan mengamati. 12
prinsip pokok dalam praktik pembelajaran kontruktivis yang meliputi:
1)
Mendorong
dan menerima otonomi dan inisiatif siswa;
2)
Menggunakan
data kasar dan data primer bersama-sama dengan bahan-bahan manipulatif,
interaktif dan fisik;
3)
Dalam
perencanaan pembelajaran, guru menggunakan istilah kognitif seperti
klasifikasi, analisis, dan menciptakan atau membentuk atau membangun;
4)
Menyertakan
respon siswa untuk mendorong pembelajaran, mengubah strategi pembelajaran, dan
mengubah isi (pokok bahasan);
5)
Menggali
pemahaman siswa tentang konsep-konsep sebelum para siswa melakukan praktik
saling berbagi (sharing) pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut;
6)
Mendorong
siswa agar terlibat aktif dalam dialog, baik dengan guru maupun sesama siswa;
7)
Mendorong
timbulnya sikap inkuiri (menemukan, menyelidi) siswa dengan jalan bertanya tentang
sesuatu yang menuntut berpikir mendalam dan kritis, pertanyaan berujung terbuka
(open-ended question) dan mendorong siswa untuk saling bertanya dengan
sesama temannya;
8)
Mengelaborasi,
mengembangkan respon awal siswa;
9)
Melibatkan
siswa dalam pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membangkitkan kontradiksi
dengan hipotesis awal dibuatnya kemudian mendorong terjadinya diskusi yang
intens;
10)
Menyediakan
waktu tunggu setelah mengajukan sejumlah pertanyaan, untuk memberi kesempatan
siswa berpikir;
11)
Menyediakan
waktu bagi siswa untuk membangun hubungan antara pengetahuan baru dengan
struktur kognitif awalnya dan menciptakan analogi atau kiasan-kiasan;
12)
Memelihara
dan mengembangkan sikap keingintahuan alamiah siswa dengan menggunakan sesering
mungkin siklus belajar.
2.
Perbandingan
antara Konstruktivisme Piaget dengan Konstruktivisme Vygotsky
Jika Piaget
lebih mengembangkan teori skemata (schemata) maka Pygotsky lebih
mengembangkan teori zona perkembangan (zona of development, ZD) dan scaffolding.
3.
Dampak
Teori Konstruktivisme terhadap Pembelajaran
Dampak teori
konstruktivisme secara umum yang merupakan gabungan baik dari konsep Piaget
maupun Vygotsky terhadap pembelajaran, antara lain dapat berkenaan dengan;
a.
Tujuan
pendidikan : menghasilakan individu atau anak yang memiliki kemampuan berpikir
untuk menyelesaikan setiap masalah yangb dihadapi.
b.
Kurikulum
: konstruktivisme tidak memerlukan kulrikulum yang distandarisasikan.
c.
Pengajaran
: dibawah teori konstruktivisme, pendidik berfokus bagaimana menyusun hubungan
antara fakta-fakta serta memperkuat perolehan pengetahuan yang baru bagi siswa.
d.
Pembelajaran
: diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi
dirinya.
e.
Penilaian:
konstruktivisme tidak memerlukan adanya tes yang baku sesuai dengan tingkat
kelas.
4.
Kritik
atas Konstruktivisme
Para konstruktivis
berpendapat bahwa proses dialektika dan proses diinteraksi bagi perkembangan
dan belajar melalui konstruksi aktif oleh siswa, dapat difailitasi dan dibantu
oleh orang dewasa. Sedangkan para penganut maturasionis romantik berpendapat
bahwa perkembangan siswa secara alami (maturational development) tanpa
harus ada bantuan orang dewasa dalam suatu lingkungan yang permesif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar