Bab VI
Elemen Dasar Mengajar
A.
Tahap
Belajar Kognitif
Belajar kognitif adalah belajar
dengan tujuan membangun struktur kognitif siswa. Belajar kognitif terkait
dengan pemrosesan informasi dalam benak siswa. Informasi yang diproses oleh
otak pembelajaran pengetahuan yang dapat berupa konsep, prosedur dan
prinsip-prinsip. Charles M. Reighelut (1989) membagi tahap-tahap balajar
kognitif menjadi tahap pengingatan (memorisasi), tahap pemahaman dan tahap penerapan.
Belajar pada tahap memorisasi disebut
pula belajar menghafal (rote learning). Dalam tahap ini pembelajar melakukan
pengkodean, memberi nama atau memberikan istilah terhadap fakta-fakta atau
informasi dengan cara membuat asosiasi antara stimulus dengan respon, misalnya
nama, tanggal, kejadian, tempat atau simbol.
Belajar pada tahap pemahaman adalah
belajar bermakna. Dalam tahap ini pembelajar mengaitkan gagasan yang baru
dengan pengetahuan terdahulu yang relevan.
Belajar pada tahap penerapan terkait
dengan kemampuan siswa dalam membuat generalisasi pengetahuan kedalam situasi
yang baru, atau telah terjadi transfer pengetahuan dalam belajar.
Konsep, prosedur dan prinsip ini
menurut Dave Merril adalah tiga hal yang dipelajari dalam belajar pada tahap
penerapan.
Konsep adalah suatu gugusan atau
sekelompok fakta atau keterangan yang memiliki makna. Suatu prosedur adalah
langkah-langkah yang disusun secara berurutan untuk mencapai tujuan. Sedangkan prinsip
adalah hubungan anatra dua atau lebih perubahan. Hubungan itu dapat berupa
hubungan kausal (sebab-akibat), kolerasional, atau hubungan secara alamiah.
B.
Modalitas
Belajar atau Gaya Belajar
1.
Gaya
Belajar VAK
Modalitas belajar ada tiga macam yang pokok, tetapi seringkali
terjadi seseorang anak memiliki gabungan beberapa modalitas belajar. Modalitas belajar
yang pertama yaitu modalitas belajar visual, artinya seorang anak akan lebih
cepat belajar denagn cara melihat, misalnya membaca buku, dll. Modalitas
belajar yang kedua, yaitu modalitas belajar audio, seorang anak yang lebih
mudah belajar dengan cara mendengarkan. Disini penerapan metode ceramah, tanya
jawab dan diskusi lebih efektif. Modalitas belajar yang ketiga yaitu, modalitas
belajar kinestetik, siswa belajar melalui gerakan-gerakan fisik. Misal dengan
berjalan-jalan, menggerak-gerakkan kaki atau tangan, melakukan eksperimen yang
memerlukan aktivitas fisik dan sebagainya.
2.
The Myers
Briggs Type Indicator (MBTI)
Dalam hal ini
gaya belajar seseorang sesuai tipe kepribadiannya yang meliputi:
a.
Exstrovert
atau exstroversi (mencoba mengungkapkan keluar, berfokus kepada dunia luar diri
seseorang) dibandingkan dengan introvert atau introversi (berfokus terhadap dunia
dalam diri manusia, inner world), tipologi kepribadian ini paling
dikenal umum.
b.
Pengindra,
sensor (praktis, berorientasi detail, berfokus pada fakta dan prosedur) dibandingkan
dengan intuitor, pencari ilham (imajinatif, berorientasi konsep, berfokus
kepada makna dan kemungkinan-kemungkinan.
c.
Pemikir,
thinker (skeptis, cenderung membuat keputusan berlandaskan logika dan
aturan-aturan) dibandingkan dengan peraba, penjajag, feeler (apresiatif,
cendrung mengambil keputusan berdasar pertimbangan personal atau humanistik)
d.
Pembuat
pertimbangan, penilai, judger (menyusun dan mengikuti agenda, cenderung mengakhiri
sesuatu walau data belum lengkap), dibandingkan dengan perasa, perceiver
(beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah, menahan kesimpulan akhir dulu
sampai data lengkap).
3.
Tipe
Belajar Menurut Kolb
Tipe belajar David Kolb berlandaskan teori belajar pengalaman (experiental
learning theory, ELT). Model ELT mengikhtisarikan adanya dua pendekatan
untuk memporoleh pengalaman atau memperoleh informasi, yaitu pengalaman konret
dan konseptualisasi abstrak.
Sehingga gaya belajar
merupakan hasil dari kombinasi pendekatan yang disukai setiap orang dan
meliputi:
a.
Corverger, yang dicirikan
oleh konseptualisasi abstrak dan pegalaman aktif, disebut dengan belajar tipe
1.
b.
Diverger, yang dicirikan
oleh konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif, disebut gaya belajar
tipe 2.
c.
Assimilator, yang dicirikan
oleh konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif disebut gaya belajar tipe
3.
d.
Accomodator, yang dicirikan
oleh penggunaan pengalaman konkret dan eksperimentasi aktif, gaya belajar tipe
4.
4.
Tipe
Belajar Menurut Model Honey and Mumford
Memberikan nama baru terhadap tahap-tahap siklus pengalaman dalam
pembuatan keputusan atau pemecahan masalah menjadi: (1) memiliki pengalaman (2)
mereviu pengalaman (3) berkesimpulan dari pengalaman (4) merencanakan langkah
berikutnya.
5.
Tipe
Belajar Menurut Model Anthony Gregorc
Model ini dikembangkan berlandaskan persepsi eksisting atau
evaluasi kita terhadap dunia dengan cara pendekatan yang masuk akal kita. Dalam
model ini ada dua kualitas persepsi yaitu: 1) Konkret dan 2) abstrak, dan dua
kecakapan dalam membuat susunan, yaitu 1) acak dan sekuensial urut.
6.
Model
Sudbury Tentang Pendidikan Demokratis
Model ini mengemukakan hasil pengalamannya, bahwa banyak cara untuk
belajar tanapa harus ada intervensi guru.
7.
Model
HBDI (Herrmann Brain Dominance Instrument)
Metode ini menggolongkan siswa dalam kaitan preferensi relatifnya
dalam berpikir pada empat modus yang berbeda, dan dilandasi oleh fungsi
spesialisasi tugas dari bagian-bagian otak. Berdasarkan adanya empat kuadran
dalam otak, maka tipe belajar diskemakan sebagai berikut.
a.
Kuadran
A (otak kiri serebral) tipe belajarnya kombinasi dari logis, analitis,
kuantitatif, faktual dan kritis.
b.
Kuadran
B (otak kiri, limbik) tipe belajarnya adalah kombinasi dari sekuensi, terorganisasi,
terancam, terinci, terstruktur.
c.
Kuadran
C (otak kanan, limbik) tipe belajarnya adalah kombinasi dari emosional, antar
pribadi, sensori, kinestetik, simbolik.
d.
Kuadran
D (otak kanan, serebral) tipe belajarnya kombinasi visual, holistik, dan
inovatif.
8.
Gaya
Belajar Felder-Silverman
Model ini menggolongkan pembelajar dalam klasifikasi: (1) pembelajar
indrawi (2) pembelajar visual (3) pembelajar induktif (4) pembelajar aktif dan
(5) dan pembelajar sekuensial.
9.
Model
Tipe Belajar Lainnya
10.
Penggunaan
Praktis Tipe Belajar Dalam Pembelajaran
Penelitian yang merekomendasikan penerapan gaya belajar yang sesuai
dengan setipa pribadi siswa adalah Merilee Sprenge. Untuk mengupayakan
pembelajaran yang efektif dengan menerapkan gaya belajr ini ia menyarankan
hal-hal sebagai berikut, (1) guru dapat berlaku sebagai pembelajar sedangkan
pembelajar dapat berlaku sebagi guru. Kita semua pada hakikatnya memang sebagai
kedua-duanya, (2) setiap pembelajar dapat belajar dengan baik jika dalam
keadaan yang mendukung, (3) belajar menggembirakan.
11.
Dampak
Gaya Belajar Terhadap Pendidikan
Dampak gaya belajar terhadap pendidikan secara umum disini terkait
dengan apa yang harus dilakukan guru terhadap materi pembelajaran (kurikulum),
pengajaran dan penilaian sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Guru wajib
mengenali gaya belajar setiap siswanya kemudian dilihat mana gaya belajar yang
paling dominan, hal itulah yang harus disesuaikan dengan metode pengajarannya.
12.
Kritik-Kritik
terhadap Implementasi Gaya Belajar
Kritik terhadap implementasi gaya belajar yang amat sengit datang
dari para ahi neurosains. Susan Greenfield menulis dimajalah Times Educational
Supplement Magazine antara lain “dari sudut pandang neurosains (pendekatan gaya
belajar) adalah omong kosong.
Sementara itu banyak ahli psikologi pendidikan yang berpendapat
bahwa hanya sedikit bukti-bukti yang mendukung efektivitas model gaya belajar,
lebih lanjut juga dinyatakan bahwa model ini sering dilatarbelakangi oleh teori
yang rancu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar