Kamis, 30 April 2020


Bab VI
Elemen Dasar Mengajar
A.    Tahap Belajar Kognitif
Belajar kognitif adalah belajar dengan tujuan membangun struktur kognitif siswa. Belajar kognitif terkait dengan pemrosesan informasi dalam benak siswa. Informasi yang diproses oleh otak pembelajaran pengetahuan yang dapat berupa konsep, prosedur dan prinsip-prinsip. Charles M. Reighelut (1989) membagi tahap-tahap balajar kognitif menjadi tahap pengingatan (memorisasi), tahap pemahaman dan tahap penerapan.
Belajar pada tahap memorisasi disebut pula belajar menghafal (rote learning). Dalam tahap ini pembelajar melakukan pengkodean, memberi nama atau memberikan istilah terhadap fakta-fakta atau informasi dengan cara membuat asosiasi antara stimulus dengan respon, misalnya nama, tanggal, kejadian, tempat atau simbol.
Belajar pada tahap pemahaman adalah belajar bermakna. Dalam tahap ini pembelajar mengaitkan gagasan yang baru dengan pengetahuan terdahulu yang relevan.
Belajar pada tahap penerapan terkait dengan kemampuan siswa dalam membuat generalisasi pengetahuan kedalam situasi yang baru, atau telah terjadi transfer pengetahuan dalam belajar.
Konsep, prosedur dan prinsip ini menurut Dave Merril adalah tiga hal yang dipelajari dalam belajar pada tahap penerapan.
Konsep adalah suatu gugusan atau sekelompok fakta atau keterangan yang memiliki makna. Suatu prosedur adalah langkah-langkah yang disusun secara berurutan untuk mencapai tujuan. Sedangkan prinsip adalah hubungan anatra dua atau lebih perubahan. Hubungan itu dapat berupa hubungan kausal (sebab-akibat), kolerasional, atau hubungan secara alamiah.
B.     Modalitas Belajar atau Gaya Belajar
1.      Gaya Belajar VAK
Modalitas belajar ada tiga macam yang pokok, tetapi seringkali terjadi seseorang anak memiliki gabungan beberapa modalitas belajar. Modalitas belajar yang pertama yaitu modalitas belajar visual, artinya seorang anak akan lebih cepat belajar denagn cara melihat, misalnya membaca buku, dll. Modalitas belajar yang kedua, yaitu modalitas belajar audio, seorang anak yang lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan. Disini penerapan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi lebih efektif. Modalitas belajar yang ketiga yaitu, modalitas belajar kinestetik, siswa belajar melalui gerakan-gerakan fisik. Misal dengan berjalan-jalan, menggerak-gerakkan kaki atau tangan, melakukan eksperimen yang memerlukan aktivitas fisik dan sebagainya.
2.      The Myers Briggs Type Indicator (MBTI)
Dalam hal ini gaya belajar seseorang sesuai tipe kepribadiannya yang meliputi:
a.       Exstrovert atau exstroversi (mencoba mengungkapkan keluar, berfokus kepada dunia luar diri seseorang) dibandingkan dengan introvert atau introversi (berfokus terhadap dunia dalam diri manusia, inner world), tipologi kepribadian ini paling dikenal umum.
b.      Pengindra, sensor (praktis, berorientasi detail, berfokus pada fakta dan prosedur) dibandingkan dengan intuitor, pencari ilham (imajinatif, berorientasi konsep, berfokus kepada makna dan kemungkinan-kemungkinan.
c.       Pemikir, thinker (skeptis, cenderung membuat keputusan berlandaskan logika dan aturan-aturan) dibandingkan dengan peraba, penjajag, feeler (apresiatif, cendrung mengambil keputusan berdasar pertimbangan personal atau humanistik)
d.      Pembuat pertimbangan, penilai, judger (menyusun dan mengikuti agenda, cenderung mengakhiri sesuatu walau data belum lengkap), dibandingkan dengan perasa, perceiver (beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah, menahan kesimpulan akhir dulu sampai data lengkap).
3.      Tipe Belajar Menurut Kolb
Tipe belajar David Kolb berlandaskan teori belajar pengalaman (experiental learning theory, ELT). Model ELT mengikhtisarikan adanya dua pendekatan untuk memporoleh pengalaman atau memperoleh informasi, yaitu pengalaman konret dan konseptualisasi abstrak.
Sehingga gaya belajar merupakan hasil dari kombinasi pendekatan yang disukai setiap orang dan meliputi:
a.      Corverger, yang dicirikan oleh konseptualisasi abstrak dan pegalaman aktif, disebut dengan belajar tipe 1.
b.      Diverger, yang dicirikan oleh konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif, disebut gaya belajar tipe 2.
c.       Assimilator, yang dicirikan oleh konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif disebut gaya belajar tipe 3.
d.      Accomodator, yang dicirikan oleh penggunaan pengalaman konkret dan eksperimentasi aktif, gaya belajar tipe 4.
4.      Tipe Belajar Menurut Model Honey and Mumford
Memberikan nama baru terhadap tahap-tahap siklus pengalaman dalam pembuatan keputusan atau pemecahan masalah menjadi: (1) memiliki pengalaman (2) mereviu pengalaman (3) berkesimpulan dari pengalaman (4) merencanakan langkah berikutnya.
5.      Tipe Belajar Menurut Model Anthony Gregorc
Model ini dikembangkan berlandaskan persepsi eksisting atau evaluasi kita terhadap dunia dengan cara pendekatan yang masuk akal kita. Dalam model ini ada dua kualitas persepsi yaitu: 1) Konkret dan 2) abstrak, dan dua kecakapan dalam membuat susunan, yaitu 1) acak dan sekuensial urut.
6.      Model Sudbury Tentang Pendidikan Demokratis
Model ini mengemukakan hasil pengalamannya, bahwa banyak cara untuk belajar tanapa harus ada intervensi guru.
7.      Model HBDI (Herrmann Brain Dominance Instrument)
Metode ini menggolongkan siswa dalam kaitan preferensi relatifnya dalam berpikir pada empat modus yang berbeda, dan dilandasi oleh fungsi spesialisasi tugas dari bagian-bagian otak. Berdasarkan adanya empat kuadran dalam otak, maka tipe belajar diskemakan sebagai berikut.
a.       Kuadran A (otak kiri serebral) tipe belajarnya kombinasi dari logis, analitis, kuantitatif, faktual dan kritis.
b.      Kuadran B (otak kiri, limbik) tipe belajarnya adalah kombinasi dari sekuensi, terorganisasi, terancam, terinci, terstruktur.
c.       Kuadran C (otak kanan, limbik) tipe belajarnya adalah kombinasi dari emosional, antar pribadi, sensori, kinestetik, simbolik.
d.      Kuadran D (otak kanan, serebral) tipe belajarnya kombinasi visual, holistik, dan inovatif.
8.      Gaya Belajar Felder-Silverman
Model ini menggolongkan pembelajar dalam klasifikasi: (1) pembelajar indrawi (2) pembelajar visual (3) pembelajar induktif (4) pembelajar aktif dan (5) dan pembelajar sekuensial.
9.      Model Tipe Belajar Lainnya
10.  Penggunaan Praktis Tipe Belajar Dalam Pembelajaran
Penelitian yang merekomendasikan penerapan gaya belajar yang sesuai dengan setipa pribadi siswa adalah Merilee Sprenge. Untuk mengupayakan pembelajaran yang efektif dengan menerapkan gaya belajr ini ia menyarankan hal-hal sebagai berikut, (1) guru dapat berlaku sebagai pembelajar sedangkan pembelajar dapat berlaku sebagi guru. Kita semua pada hakikatnya memang sebagai kedua-duanya, (2) setiap pembelajar dapat belajar dengan baik jika dalam keadaan yang mendukung, (3) belajar menggembirakan.
11.  Dampak Gaya Belajar Terhadap Pendidikan
Dampak gaya belajar terhadap pendidikan secara umum disini terkait dengan apa yang harus dilakukan guru terhadap materi pembelajaran (kurikulum), pengajaran dan penilaian sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Guru wajib mengenali gaya belajar setiap siswanya kemudian dilihat mana gaya belajar yang paling dominan, hal itulah yang harus disesuaikan dengan metode pengajarannya.
12.  Kritik-Kritik terhadap Implementasi Gaya Belajar
Kritik terhadap implementasi gaya belajar yang amat sengit datang dari para ahi neurosains. Susan Greenfield menulis dimajalah Times Educational Supplement Magazine antara lain “dari sudut pandang neurosains (pendekatan gaya belajar) adalah omong kosong.
Sementara itu banyak ahli psikologi pendidikan yang berpendapat bahwa hanya sedikit bukti-bukti yang mendukung efektivitas model gaya belajar, lebih lanjut juga dinyatakan bahwa model ini sering dilatarbelakangi oleh teori yang rancu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar