Kamis, 26 Maret 2020


BAB IV TEORI BELAJAR

A.    Kognitivisme
Sesungguhnya kognitivisme lahir merupakan respon terhadap behaviorisme, diawali oleh publikasi pada tahun 1929 oleh Bode, seorang ahli psikologi gestalt. Ia mengeritik behaviorisme karena kebergantungannya kepada perilaku yang diamati untuk menjelaskan pembelajaran. Pandangan gestalt tentang belajar dinyatakan dalam konsep pembelajaran yang disebut teori kognitif. Dua kunci pendekatan kognitif adalah , (i) bahwa sistem ingatan adalah suatu prosesor informasi yang aktif dan terorganisasi, (ii) bahwa pengetahuan awal memerankan peranan penting dalam pembelajaran. Teori kognitif mencermati hal-hal dibalik perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak, (brain basid learning). Perbedaan pokok pada seorang gestaltis dengan seorang behavioris, yaitu terletak pada lokasi kontrol , (the locus of control) terhadap kegiatan pembelajaran. Bagi seorang gestaltis terletak pada individu pembelajar, sedangkan bagi seorang behavioris terletak pada lingkungan.
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Model belajar kognitif merupakan, suatu bentuk teori balajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengelolaan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks (Budiningsih, 2005 : 34).
Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1.      Pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam bentuk kata atau disebut pula pengetahuan konseptual.
2.      Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang tahap-tahap atau proses-proses yanng harus dilakukan, atau pengetahuan tentang bagaimana melakukan (how to do)
3.      Pengetahuan kondisional, yaitu pengetahuan tentang kapan dan mengapa (when and why) suatu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural digunakan.
1.      Teori-Teori Belajar Berbasis Kognitivisme
a.       Teori Kognitif Gestalt
Dalam dunia psikologi gastalt dimaknai sebagai kesatuan atau keseluruhan yang bermakna (a unified or meaningful whole). Pokok pandangan gestalt adalah bahwa objek dan peristiwa tertentu akan dipandang sebagai keseluruhan yang terorganisasi.
Menurut pandangan ahli teori gestalt semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman tentang adanya hubungan-hubungan terutama hubungan antara bagian terhadap keseluruhan. Tingkat kejelasan dan kemaknaan terhadap apa yang diamati dalam situasi belajar akan lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang daripada melalui hukuman atau ganjaran.
b.      Teori Belajar Medan Kognitif dari Kurt Lewin
Belajar berlangsung sebagai akibat perubahan struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu merupakan hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognitif itu sendiri, yang lain dari kebutuhan motivasi internal individu.
Implementasi teori gestalt dalam pembelajaran, antara lain pada pengembangan konsep.
1)      Pengalaman tilikan (insight)
2)      Pembelajaran bermakna (meaningful learning)
3)      Perilaku bertujuan (purposive behavior)
4)      Prinsip ruang hidup (life space)
5)      Transfer dalam belajar, pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi yang lain.
c.       Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif disebut pula teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan mental. Teori ini berkenaan dengan kesiapan anak belajar yang dikemas dalam tahap-tahap perkembangan intelektual sejak lahir sampai dewasa. Menurut Piaget perkembangan kognitif meruapakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Dengan makin bertambahnya usia seseorang, maka makin komplekslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Atas dasar pemikiran ini maka Piaget disebut-sebut cenderung menganut teori psikogenesis, artinya pengetahuan sebagai hasil belajar berasal dari dalam individu.
d.      Teori Discovery Learning dari Jerome S. Bruner
Konsepnya adalah belajar dengan menemukan (discovery learning), siswa mengorganisasikan bahan pelajaran yang dipelajarinya dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan berpikir anak. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses penemuan personal (personal discovery), oleh setiap individu murid.
Menurut Bruner seiring dengan terjadinya pertumbuhan kognitif, para pembelajran harus melalui tiga tahapan pembelajaran. Tiga tahapan perkembangan intelektual itu menurut Bruner meliputi:
1)      Enaktif (enactive) seseorang belajar tentang dunia melalui respon atau reaksi-reaksi terhadap suatu objek.
2)      Ikonik (iconic), pembelajaran terjadi melalui penggunaan model-model dan gambar-gambar dan visualisasi verbal.
3)      Simbolik, siswa sudah mampu menggambarkan kapasitas berpikir  dalam istilah-istilah yang abstrak.
e.       Teori Belajar dari Robert M. Gagne
Gagne mengemukakan delapan macam tipe belajar yang membentuk suatu hierarki belajar dari yang paling sederhan samapi dengan yang paling rumit. Berkaitan dengan proses pembelajaran Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase, yaitu: (a) motivasi, (b) pemahaman, (c) pemerolehan, (d) penyimpanan, (e) pengingatan kembali, (f) generalisasi, (g) perlakuan, dan (h) umpan balik.
Sembilan peristiwa pembelajaran menurut Gagne adalah sebagai berikut.
1)         Memberikan perhatian (gain attention).
2)         Memberi tahu siswa tentang tujuan pembelajaran ( inform learner of objectives).
3)          Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu (recall prior knowledge).
4)         Menyajikan pembelajaran sebagai rangsangan (present material).
5)         Memberikan panduan belajar (provide guided learning).
6)         Menampilkan kinerja (elicit performance).
7)         Memberikan umpan balik (provide feedback).
8)         Menilai kinerja (assess performance).
9)         Meningkatkan retensi/ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer).
f.        Teori Belajar Bermakna dari David P. Ausubel
Beberapa kunci pandangan Ausubel adalah sebagai berikut.
1.      Teori Subsumsi
Subsumption memiliki makna menggolong-golongkan secara hierarkis. Melakukan subsumsi berarti menjalankan suatu materi baru (dalam hal ini pengetahuan) ke dalam struktur kognitif seseorang.
2.      Advanced Organizer
Advance Organizer adalah suatu perangkat atau suatu pembelajaran mental yang bertujuan membantu siswa didalam mengintegrasikan pengetahuan baru dengan pengetahuan terdahulu, mengarah kepada pembelajaran bermakna sebagai lawan dari pembelajaran dengan cara menghafal (rote memorization).
B.     Konstruktivisme
Konstruktivisme melandasi pemikirannya bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang given dari alam karena hasil kontak manusia dengan alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif manusia itu sendiri. Pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Ia membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan.
1.      Teori Belajar Konstruktivisme
a.       Teori Konstruktivisme Piaget
Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa perkembangan anak bermakna membangun struktur kognitifnya atau peta mentalnya yang diistilahkan “schema/skema (jamak= schemata/skemata)”, atau konsep jejaring untuk memahami dan menanggapi pengalaman fisik dalam lingkungan dan sekelilingnya.
Tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut.
1)      Peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna,
2)      Pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna,
3)      Mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
b.      Teori Konstruktivisme Sosial dari Vygotsky
Pembelajaran kognisi sosial meyakini bahwa kebudayaan merupakan penentu utama bagi pengembangan individu.
Beberapa kunci pemikiran kognisi sosial dari Vygotsky antara lain adalah:
1)      Kebudayaan menciptakan dua macam konstribusi terhadap perkembangan intelektual anak.
2)      Perkembangan kognitif yang dihasilkan dari sebuah proses dialetika dimana seorang siswa belajar melalui pengalaman
Berikut ini diberikan beberapa konsep kunci dari teori konstruktvisme sosial, antara lain;
1)      Siswa sebagai individu yang unik
2)      Self Regulated Learner (Pembelajar yang Dapat Mengelola Diri Sendiri)
3)      Tanggung jawab Pembelajaran
4)      Motivasi Pembelajaran
5)      Zona Perkembangan (Zona of Development, ZD)
6)      Peran Guru sebagai Fasilitator
7)      Interaksi Dinamika antara Tugas-Tugas, Instruktur dan Pembelajar
8)      Kolaborasi Antarpembelajar
9)      Pemagangan Kognitif  (Cognitive Apprenticeship)
10)  Proses Top-Down (Proses dari Atas ke Bawah)
11)  Pembelajaran Kooperatif sebagai implementasi Konstruktivisme
12)  Belajar dengan cara mengajar (Learning by Teaching) sebagai Metode Konstruktivis
Prinsip dasar dari konstruktivisme yang harus dipegang oleh pengajar adalah bahwa sisiwa lebih baik belajar dengan berbuat (learning by doing) daripada belajar dengan mengamati. 12 prinsip pokok dalam praktik pembelajaran kontruktivis yang meliputi:
1)      Mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa;
2)      Menggunakan data kasar dan data primer bersama-sama dengan bahan-bahan manipulatif, interaktif dan fisik;
3)      Dalam perencanaan pembelajaran, guru menggunakan istilah kognitif seperti klasifikasi, analisis, dan menciptakan atau membentuk atau membangun;
4)      Menyertakan respon siswa untuk mendorong pembelajaran, mengubah strategi pembelajaran, dan mengubah isi (pokok bahasan);
5)      Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep sebelum para siswa melakukan praktik saling berbagi (sharing) pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut;
6)      Mendorong siswa agar terlibat aktif dalam dialog, baik dengan guru maupun sesama siswa;
7)      Mendorong timbulnya sikap inkuiri (menemukan, menyelidi) siswa dengan jalan bertanya tentang sesuatu yang menuntut berpikir mendalam dan kritis, pertanyaan berujung terbuka (open-ended question) dan mendorong siswa untuk saling bertanya dengan sesama temannya;
8)      Mengelaborasi, mengembangkan respon awal siswa;
9)      Melibatkan siswa dalam pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membangkitkan kontradiksi dengan hipotesis awal dibuatnya kemudian mendorong terjadinya diskusi yang intens;
10)  Menyediakan waktu tunggu setelah mengajukan sejumlah pertanyaan, untuk memberi kesempatan siswa berpikir;
11)  Menyediakan waktu bagi siswa untuk membangun hubungan antara pengetahuan baru dengan struktur kognitif awalnya dan menciptakan analogi atau kiasan-kiasan;
12)  Memelihara dan mengembangkan sikap keingintahuan alamiah siswa dengan menggunakan sesering mungkin siklus belajar.
2.      Perbandingan antara Konstruktivisme Piaget dengan Konstruktivisme Vygotsky
Jika Piaget lebih mengembangkan teori skemata (schemata) maka Pygotsky lebih mengembangkan teori zona perkembangan (zona of development, ZD) dan scaffolding.
3.      Dampak Teori Konstruktivisme terhadap Pembelajaran
Dampak teori konstruktivisme secara umum yang merupakan gabungan baik dari konsep Piaget maupun Vygotsky terhadap pembelajaran, antara lain dapat berkenaan dengan;
a.       Tujuan pendidikan : menghasilakan individu atau anak yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap masalah yangb dihadapi.
b.      Kurikulum : konstruktivisme tidak memerlukan kulrikulum yang distandarisasikan.
c.       Pengajaran : dibawah teori konstruktivisme, pendidik berfokus bagaimana menyusun hubungan antara fakta-fakta serta memperkuat perolehan pengetahuan yang baru bagi siswa.
d.      Pembelajaran : diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya.
e.       Penilaian: konstruktivisme tidak memerlukan adanya tes yang baku sesuai dengan tingkat kelas.
4.      Kritik atas Konstruktivisme
Para konstruktivis berpendapat bahwa proses dialektika dan proses diinteraksi bagi perkembangan dan belajar melalui konstruksi aktif oleh siswa, dapat difailitasi dan dibantu oleh orang dewasa. Sedangkan para penganut maturasionis romantik berpendapat bahwa perkembangan siswa secara alami (maturational development) tanpa harus ada bantuan orang dewasa dalam suatu lingkungan yang permesif.