Rabu, 11 Maret 2020



BAB III LANDASAN TEORI

A.   Peran Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Teori Belajar
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap pendidikan disekolah, setiap pembelajaran oleh guru, selalu dilandasi oleh seperangkat keyakinan, yang bersumber kepada filsafat pendidikan, dan berpengaruh terhadap apa dan bagaimana seharusnya siswa dibelajarkan. Filasafat sebagai karya pikir manusia mampu menunjukan pengertian hakiki tentang sesuatu yang digunakan oleh manusia. Filsafat pendidikan menjawab berbagai pertanyaan tentang tujuan persekolahan, peranan guru, dan tentang apa yang harus diajarkan, kurikulum, dan dengan metode apa hal itu harus diajarkan. Atas dasar itu pendidikan menyusun deskripsi tentang apa yang seyogianya dapat dilakukan melalui pendidikan untuk mengembangkan potensi manusia.
Dalam konteks bagaimana pembelajaran dilakukan, secara historis filsafat pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu filsafat pendidikan yang berasumsi guru sebagai pusat pembelajaran (teacher-centered philosophies) dikatakan cenderung lebih otoriter dan konservatif, dan menekankan pengembangan nilai-nilai dan pengetahuan yang telah hadir sejak dulu sampai sekarang. Aliran pokok dari filsafat yang berpusat pada guru, yaitu esensialime dan perenialisme. Student center philoshophi lebih berfokus kepada kebutuhan pembelajar, kontemporer dan relevan, serta menyiapkan siswa untuk perubahan dimasa depan. Sekolah dipandang sebagai suatu lembaga yang bekerja dengan kaum muda untuk membangun dan memperbaiki masyarakat atau membantu para siswa menyadari tanggung jawab individual mereka dimasyarakat.
Aliran-aliran pokok serta keterkaitannya dengan pendidikan maupun pembelajaran sebagai berikut.
1.    Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce dalam bukunya How to make our idea clear (1878).Pragmatisme berkeyakinan bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa hendaknya dimanfaatkan untuk memahami persoalan yang berkembang diamasyarakat. Hasil pembelajaran digunakan dalam menetapkan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk kebaikan, kewajiban, kemajuan dan perkembangan masyarakat dunia dalam menilai gagasan, ide-ide dan teori, yang penting adalah dapat atau tidaknya gagasan itu dilaksanakan sehingga membuahkan hasil yang positif.
Pandangan pokok dari madzhab ini adalah bahwa kita akan belajar dengan sebaik-baiknya dengan mengalami sendiri segala sesuatu, (we learn best by experiencing things for ourselves). Pengalaman sebagai esensi pembelajaran harus dilaksanakan dalam dua sisi, baik pada siswa maupun seorang guru. Berkaitan dengan ini para calon guru dalam peroyek ini dilatih untuk bias belajar dari pengalaman sebelum mendapatkan sertifikat dan diterjunkan menjadi guru, learning by doing tidak hanya berlaku bagi siswa tetapi juga bagi guru. Istilah POE sendiri sengaja diambil dari prinsip pembelajaran yang meliputi langkah-langkah predict-observe-explain.
Predict, memulai pembelajaran dengan menghadapakan para pembelajar dengan seperangkat alat dan bahan percobaan, kemudian guru menjelaskan apa saja yang harus dlakukan siswa terkait peralatan tersebut.
Observe, dilakukan demonstrasi atau percobaan, kemudian diamati. Dari sini dapat diketahui eksplanasi mana yang paling benar, dan prediksi eksplanasi mana saja yang ternyata salah.
Explain, kelas sebagi kelompok mencoba melakukan dikonstruksi hasil demontrasi/percobaan dan menjelaskan mengapa hal yang didemonstrasikan tersebut terjadi.
2.    Progresivisme
Aliran progresif dinamai juga instrumentalis, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia adalah untuk hidup, untuk mencapai kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Aliran ini juga dinamakan eksperimentalis, karena aliran ini menyadari dan mempraktikan asas untuk menguji kebenaran suatu teori. Selanjutnya juga dinamakan envorimentalisme karena aliran ini berkeyakinan bahwa lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.
Progresivisme berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif. Karena pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan IPTEKS maka kita harus mengajar siswa tentang bagaimana cara berpikir, how we think, daripada apa yang harus dipikirkan (what we think).
3.    Eksistensialisme
Aliran ini mencoba membebaskan manusia dari tradisi masalalu. Perhatian pokoknya adalah tentang apa yang harus dilakukan terkait eksistensi sebagai makhluk manusia di dunia.
Para murid dalam sekolah eksistensialisme, mengontrol, dan mementukan pendidikannya sendiri. Mereka didorong untuk mengetahui dan menghargai keunikan dirinya masing-masing serta bertanggung jawab penuh terhadap setiap tindakannya.
Guru berpendapat bahwa setiap siswa merupakan suatu entitas dari konteks sosial.
Para eksistensialis anti terhadap pemikiran bahwa siswa merupakan objek yang harus diukur, dilacak rekornya, dan dibakukan kinerjanya. Pendidikan semacam ini menginginkan agar pengalaman pendidikan berfokus untuk menciptakan kesempatan bagi pengarahan diri (self-direction) dan aktualisasi diri.
4.    Perenialisme
Kelas para perenialis berpusat kepada guru untuk dapat mencapai tujuan pendidikan (teacher-centered). Dalam pembelajaran, penting bagi setiap pembelajar untuk berpikir mendalam, analitis, fleksibel, dan imajinatif. Pembelajaran tentang Penalaran sains (scientific reasoning) merupakan hal penting.
5.    Esensialisme
Esensialisme berpandangan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk melaksanakan pewarisan dan revitalisasi budaya serta inti, esensi, pengetahuan kepada generasi muda. Filsafat ini berfokus kepada pembelajaran tentang esensi pokok atau dasar-dasar pengetahuan akademik, keterampilan-keterampilan, dan pngembangan karakter.
Esensialisme berpaham techer-oriented, tanggung jawab sepenuhnya kepada guru.
Guru berfokus kepada pencapaian skor hasil ujian/tes sebagai alat evaluasi kemajuan pembelajaran. Para esensialis berpandangan, setelah siswa lulus dan meninggalkan sekolah, mereka tidak sekedar menguasai pengetahuan dan keterampilan dasar, tetapi juga harus mampu mendisiplinkan diri, memiliki pemikiran praktis, serta mampu mengaplikasikan hikmah pembelajaran yang dimiliki di dalam dunia nyata.
6.    Rekonstruksionisme
Keyakinan pokok paham ini adalah bahwa tujuan pokok pendidikan, yaitu membangun pola-pola kebudayaan yang baru dan menghapuskan seluruh masalah masalah sosial, termasuk penyakit penyakit sosial.
7.    Pendekatan Filsafat Pendidikan yang lain
a.    Nativisme
Pandangan ini berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir (hereditas). Aliran pendidikan yang berpandang sesuai dengan doktrin filsafat ini disebut dengan pedagogik pesimistis, karena pesimis terhadap manfaat pendidikan.
b.    Naturalisme
Aliran ini berpendapat bahwa setiap anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak seorang pun lahir dengan pembawaan yang buruk. Pandangan naturalisme tidak memandang pentingnya pendidikan, sehingga aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidikan wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam atau dengan kata lain tidak diperlukan campur tangan pendidikan.
c.    Empirisme
Empiris berasal dari kata empiria atau pengalaman, tokohnya adalah John Lock (Inggris). Paham empirisme bertentangan dengan paham nativisme dan berpandangan bahwa anak sejak lahir belum memiliki sifat pembawaan apapun, anak yang baru lahir bagaikan kertas yang putih bersih, tabula rasa. Besarnya optimisme terhadap peranan pendidikan dalam pandangan aliran ini, maka aliran ini disebut pula sebagai pedagogik optimistis.
d.    Konvergensi
Pandangan ini memadukan antara pandangan nativisme dan empirisme. Tokoh yaitu William Stern (Jerman). Aliram ini berpandangan bahwa perkembangan intelektualitas anak tidak hanya dilihat dari faktor pembawaaan atau lingkungan saja tetapi perpaduan antara keduanya, sinergisme antara faktor internal nature, natur (faktor dasar) alami, dan faktor eksternal nurture, nurtur (faktor ajar, bimbingan) pengalaman.
Implementasi aliran dalam pembelajaran telah melahirkan berbagai teori belajar dan pembelajaran antara lain, meliputi: (1) teori belajar berlandaskan behaviorisme dengan pengembangannya seperti teori belajar tuntas, pengajaran berprogram, belajar asertif, sistem modul, pembelajaran berbasis bantuan komputer, dan lain-lain, (2) teori belajar berdasarkan proses pengelolaan informasi, model belajar inkuiri, model pengembangan berpikir, pembelajaran bermakna dengan advanced organizer, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar