A.
Peran
Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Teori Belajar
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap pendidikan
disekolah, setiap pembelajaran oleh guru, selalu dilandasi oleh seperangkat
keyakinan, yang bersumber kepada filsafat pendidikan, dan berpengaruh terhadap
apa dan bagaimana seharusnya siswa dibelajarkan. Filasafat sebagai karya pikir
manusia mampu menunjukan pengertian hakiki tentang sesuatu yang digunakan oleh
manusia. Filsafat pendidikan menjawab berbagai pertanyaan tentang tujuan persekolahan,
peranan guru, dan tentang apa yang harus diajarkan, kurikulum, dan dengan
metode apa hal itu harus diajarkan. Atas dasar itu pendidikan menyusun
deskripsi tentang apa yang seyogianya dapat dilakukan melalui pendidikan untuk
mengembangkan potensi manusia.
Dalam konteks bagaimana pembelajaran dilakukan,
secara historis filsafat pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu filsafat
pendidikan yang berasumsi guru sebagai pusat pembelajaran (teacher-centered
philosophies) dikatakan cenderung lebih otoriter dan konservatif, dan
menekankan pengembangan nilai-nilai dan pengetahuan yang telah hadir sejak dulu
sampai sekarang. Aliran pokok dari filsafat yang berpusat pada guru, yaitu
esensialime dan perenialisme. Student center philoshophi lebih berfokus
kepada kebutuhan pembelajar, kontemporer dan relevan, serta menyiapkan siswa
untuk perubahan dimasa depan. Sekolah dipandang sebagai suatu lembaga yang
bekerja dengan kaum muda untuk membangun dan memperbaiki masyarakat atau
membantu para siswa menyadari tanggung jawab individual mereka dimasyarakat.
Aliran-aliran pokok serta keterkaitannya dengan
pendidikan maupun pembelajaran sebagai berikut.
1.
Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran
filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce dalam
bukunya How to make our idea clear (1878).Pragmatisme berkeyakinan bahwa
pengetahuan yang diperoleh siswa hendaknya dimanfaatkan untuk memahami
persoalan yang berkembang diamasyarakat. Hasil pembelajaran digunakan dalam
menetapkan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk kebaikan, kewajiban,
kemajuan dan perkembangan masyarakat dunia dalam menilai gagasan, ide-ide dan
teori, yang penting adalah dapat atau tidaknya gagasan itu dilaksanakan
sehingga membuahkan hasil yang positif.
Pandangan pokok dari madzhab ini adalah bahwa kita akan belajar
dengan sebaik-baiknya dengan mengalami sendiri segala sesuatu, (we learn
best by experiencing things for ourselves). Pengalaman sebagai esensi
pembelajaran harus dilaksanakan dalam dua sisi, baik pada siswa maupun seorang
guru. Berkaitan dengan ini para calon guru dalam peroyek ini dilatih untuk bias
belajar dari pengalaman sebelum mendapatkan sertifikat dan diterjunkan menjadi
guru, learning by doing tidak hanya berlaku bagi siswa tetapi juga bagi
guru. Istilah POE sendiri sengaja diambil dari prinsip pembelajaran yang
meliputi langkah-langkah predict-observe-explain.
Predict, memulai pembelajaran dengan
menghadapakan para pembelajar dengan seperangkat alat dan bahan percobaan,
kemudian guru menjelaskan apa saja yang harus dlakukan siswa terkait peralatan
tersebut.
Observe, dilakukan demonstrasi atau
percobaan, kemudian diamati. Dari sini dapat diketahui eksplanasi mana yang
paling benar, dan prediksi eksplanasi mana saja yang ternyata salah.
Explain, kelas sebagi kelompok mencoba melakukan
dikonstruksi hasil demontrasi/percobaan dan menjelaskan mengapa hal yang
didemonstrasikan tersebut terjadi.
2.
Progresivisme
Aliran progresif dinamai juga instrumentalis, karena aliran
ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia adalah untuk hidup, untuk
mencapai kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Aliran ini
juga dinamakan eksperimentalis, karena aliran ini menyadari dan
mempraktikan asas untuk menguji kebenaran suatu teori. Selanjutnya juga
dinamakan envorimentalisme karena aliran ini berkeyakinan bahwa
lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.
Progresivisme berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif. Karena
pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan IPTEKS maka kita harus
mengajar siswa tentang bagaimana cara berpikir, how we think, daripada apa yang
harus dipikirkan (what we think).
3.
Eksistensialisme
Aliran ini mencoba membebaskan manusia dari tradisi masalalu.
Perhatian pokoknya adalah tentang apa yang harus dilakukan terkait eksistensi
sebagai makhluk manusia di dunia.
Para murid dalam sekolah eksistensialisme, mengontrol, dan
mementukan pendidikannya sendiri. Mereka didorong untuk mengetahui dan
menghargai keunikan dirinya masing-masing serta bertanggung jawab penuh terhadap
setiap tindakannya.
Guru
berpendapat bahwa setiap siswa merupakan suatu entitas dari konteks sosial.
Para eksistensialis anti terhadap pemikiran bahwa siswa merupakan
objek yang harus diukur, dilacak rekornya, dan dibakukan kinerjanya. Pendidikan
semacam ini menginginkan agar pengalaman pendidikan berfokus untuk menciptakan
kesempatan bagi pengarahan diri (self-direction) dan aktualisasi diri.
4.
Perenialisme
Kelas para perenialis berpusat kepada guru untuk dapat mencapai
tujuan pendidikan (teacher-centered). Dalam pembelajaran, penting bagi
setiap pembelajar untuk berpikir mendalam, analitis, fleksibel, dan imajinatif.
Pembelajaran tentang Penalaran sains (scientific reasoning) merupakan
hal penting.
5.
Esensialisme
Esensialisme berpandangan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah
untuk melaksanakan pewarisan dan revitalisasi budaya serta inti, esensi,
pengetahuan kepada generasi muda. Filsafat ini berfokus kepada pembelajaran
tentang esensi pokok atau dasar-dasar pengetahuan akademik, keterampilan-keterampilan,
dan pngembangan karakter.
Esensialisme berpaham techer-oriented, tanggung jawab sepenuhnya
kepada guru.
Guru berfokus
kepada pencapaian skor hasil ujian/tes sebagai alat evaluasi kemajuan
pembelajaran. Para esensialis berpandangan, setelah siswa lulus dan
meninggalkan sekolah, mereka tidak sekedar menguasai pengetahuan dan
keterampilan dasar, tetapi juga harus mampu mendisiplinkan diri, memiliki
pemikiran praktis, serta mampu mengaplikasikan hikmah pembelajaran yang
dimiliki di dalam dunia nyata.
6.
Rekonstruksionisme
Keyakinan pokok paham ini adalah bahwa tujuan pokok pendidikan,
yaitu membangun pola-pola kebudayaan yang baru dan menghapuskan seluruh masalah
masalah sosial, termasuk penyakit penyakit sosial.
7.
Pendekatan
Filsafat Pendidikan yang lain
a.
Nativisme
Pandangan ini berpendapat bahwa perkembangan individu itu
semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir (hereditas). Aliran
pendidikan yang berpandang sesuai dengan doktrin filsafat ini disebut dengan pedagogik
pesimistis, karena pesimis terhadap manfaat pendidikan.
b.
Naturalisme
Aliran ini berpendapat bahwa setiap anak yang baru dilahirkan
mempunyai pembawaan baik, dan tidak seorang pun lahir dengan pembawaan yang
buruk. Pandangan naturalisme tidak memandang pentingnya pendidikan, sehingga
aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidikan
wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam atau dengan kata lain tidak
diperlukan campur tangan pendidikan.
c.
Empirisme
Empiris berasal dari kata empiria atau pengalaman, tokohnya adalah
John Lock (Inggris). Paham empirisme bertentangan dengan paham nativisme dan
berpandangan bahwa anak sejak lahir belum memiliki sifat pembawaan apapun, anak
yang baru lahir bagaikan kertas yang putih bersih, tabula rasa. Besarnya
optimisme terhadap peranan pendidikan dalam pandangan aliran ini, maka aliran
ini disebut pula sebagai pedagogik optimistis.
d.
Konvergensi
Pandangan ini memadukan antara pandangan nativisme dan empirisme.
Tokoh yaitu William Stern (Jerman). Aliram ini berpandangan bahwa perkembangan
intelektualitas anak tidak hanya dilihat dari faktor pembawaaan atau lingkungan
saja tetapi perpaduan antara keduanya, sinergisme antara faktor internal
nature, natur (faktor dasar) alami, dan faktor eksternal nurture, nurtur
(faktor ajar, bimbingan) pengalaman.
Implementasi aliran dalam pembelajaran telah melahirkan berbagai
teori belajar dan pembelajaran antara lain, meliputi: (1) teori belajar
berlandaskan behaviorisme dengan pengembangannya seperti teori belajar tuntas,
pengajaran berprogram, belajar asertif, sistem modul, pembelajaran berbasis
bantuan komputer, dan lain-lain, (2) teori belajar berdasarkan proses
pengelolaan informasi, model belajar inkuiri, model pengembangan berpikir,
pembelajaran bermakna dengan advanced organizer, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar