Bab IV
Teori Belajar
A.
Teori
Disiplin Mental
Teori ini menganggap bahwa dalam
belajar harus didisiplinkan atau dilatih. Menurut rumpun psikologi ini individu memiliki kekuatan,
kemampuan, atau potensi potensi tertentu. Belajar merupakan pengembangan dari
kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
Teori disiplin
mental ini kurang kuat pengaruhnya terhadap pendidikan dan pembelajaran,
mungkin juga karena pengaruh sifat negativisme terhadap pendidikan seperti yang
dipegang oleh penganjur aliran naturalisme. Di samping itu, sifat spekulatif
dari teori-teori ini banyak mendapatkan kritikan dari para ahli pendidikan.
Berbeda dengan konsep behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme.
B.
Behaviorisme
Aliran ini disebut dengan
behaviorisme karena sangat menekankan kepada perlunya perilaku (behavior) yang
dapat diamati. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu: (1) mengutamakan
unsur-unsur atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan
peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan respon, (5) menekankan
pentingnya latihan.
Behaviorisme merupakan aliran
psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan
mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam kegiatan belajar. Hal ini dapat dimaklum karena behaviorime
berkembang melalui suatu penelitian yang melibatkan binatang seperti burung
merpati, kucing, tikus, dan anjing sebagai objek. Peristiwa belajar semata-mata
dilakukan dengan melatih refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan
yang dikuasai individu. Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat
adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini,
dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output
yang berupa respon.
1.
Teori-Teori
Belajar dalam Aliran Behaviorisme
a.
Connectionism
(S-R Bond) menurut Edward Lee Thorndike
Beberapa hukum
belajar yang dikemukakan Thorndike anatara lain:
1) Law
Of Effect (hukum efek), jika sebuah respon
(R), menghasilkan efek yang memuaskan, maka ikatan anatra S (stimulus) dengan R
(respon) akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang
dicapai melalui respon, maka semakin lemah pula ikatan yang terjadi antara S-R.
Artinya belajar akan lebih bersemangat apabila mengetahui akan mendapat hasil
yang baik.
2) Law
Of Readness (hukum kesiapan), maknanya, suatu
kesiapan (readness) terjadi berlandaskan asumsi bahwa kepuasan organisme
itu berasal dari pendayagunaan suatu pengantar (conduction unit),
unit-unit inilah yang menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Pada implementasinya, belajar akan lebih
berhasil bila individu memiliki kesiapan untuk melakukannya.
3) Law
Of Exarcise (hukum latihan), hubungan antara S
dengan R akan semakin bertambah erat jika sering dilatih dan akan semakin
berkurang bila jarang dilatih. Dengan demikian belajar akan berhasil apabila
banyak latihan atau ulangan-ulangan.
b.
Classical
Conditioning oleh Ivan Pavlov
Belajar
merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau
respon terhadap sesuatu. Hukum belajar yang dikemukakan Pavlov:
1) Law
Of Respondent Conditioning, atau hukum
pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara serentak
(dengan salah satunya berfungsi sebagai reinforcer) maka refleks dan
stimulus lainya akan menigkat.
2)
Law
Of Respondent Extinction, atau hukum
pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent
conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reiforcer, maka
kekuatannya akan menurun.
c.
Teori
Belajar menurut Edwin Guthrie
Hukum belajar yang dihasilkan dari penyelidikan adalah Law of
Contiguity atau hukum hubungan. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan
stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar
terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus
sedangkan pada saat yang sama tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan
sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon baru.
Hubungan antara stimulus dan respons bersifat sementara. Oleh
karena itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar
hubungan antara S dengan R bersifat lebih kuat dan menetap.
d.
Teori
Belajar menurut Clark Hull
Clark Hull adalah seorang bahavioris yang amat terpengaruh oleh
teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, semua fungsi tingkah laku bermanfaat
terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup (struggle for
existence). Oleh sebab itu, kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan
kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menepati posisi
sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun
hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walupun respon yang akan
muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
e. Operant
Conditioning menurut B.F.Skinner
Objek
penelitiannya, yaitu seekor tikus dan burung merpati. Hukum-hukum belajar yang
dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Law
of Operant Conditioning, jika
timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka ketentuan perilaku
tersebut akan meningkat.
2) Law
of Operant Extinction, jika timbulnya
periaku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu
tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun
bahkan akan menghalangi.
f.
Teori
Belajar Sosial (Social Learninng) menurut Albert Bandura
Melalui pembelajaran observasional yang disebut modeling atau menirukan perilaku manusia
model, Bandura mengambangkan teori pembelajaran sosial. Perilaku siswa pengamat
dapat dipengaruhi oleh perilaku model dalam bentuk akibat-akibat positif (vicarious
reinforcement, penguatan yang seolah-olah dialaminya sendiri) maupun dalam
bentuk akibat-akibat negatif (vicarious punishment).
Proses modeling
terjadi dengan beberapa tahapan sebagai berikut.
1) Atensi
(perhatian), jika ingin mempelajari sesuatu harus memperhatikannya dengan
seksama, berkonsentrasi, jangan banyak hal yang mengganggu pikiran.
2) Retensi
(ingatan), kita harus mampu mempertahankan, mengingat apa yang telah
diperhatikan dengan seksama tadi.
3) Produksi,
kita hanya perlu duduk dan berkhayal untuk menerjemahkan citraan atau deskripsi
model ke dalam perilaku aktual. Aspek paling penting di sini adalah kemampuan
kita berimprovisasi ketika kita membayangkan diri kita sebagai model.
4) Motivasi,
adanya dorongan atau alasan-alasan tertentu untuk berbuat meniru model. Ada
tiga hal yang merupakan motivasi, yaitu: (i) dorongan masa lalu, (ii) dorongan
yang dijanjikan (insentif) yang dapat kita bayangkan, dan (iii)
dorongan-dorongan yang kentara (tangible), seperti melihat atau
mengingat model-model yang patut ditiru.
2.
Kritis
atas Teori Behavioristik
Ada sejumlah
kritik yag disampaikan oleh para ahli kependidikan sehubungan dengan kelemahan
yang melekat dalam teori behaviorisme. Di antara kritik-kritik itu sebagai
berikut.
a. Behaviorisme
tidak mengadaptasi berbagai macam jenis pembelajaran, karena mengabaikan
aktivitas pikiran.
b.
Behaviorisme
tidak mampu menjelaskan beberapa jenis pembelajaran, misalnya pengenalan
terhdap pola-pola bahasa baru oleh anak-anak kecil, karena disini tidak ada
mekanisme penguatan.
c. Riset
menunjukan bahwa binatang mampu mengadaptasikan pola penguatan mereka terhadap
informasi baru.
d. Sering
kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, karena banyak
variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang berperan terhadap perilaku siswa, tetapi
pengaruh atau peranannya tidak sekedar hubungan stimulus-respon. Teori ini
tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan
S-R.
e. Pandangan
behaviorisme juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa,
walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
f. Padangan
behaviorisme tidak memperhatikan pengaruh pikiran atau perasaan yang
mempertemukan unsur-unsur yang dapat diamati sebagai akibat hubungan S-R.
g. Pandangan
behaviorisme cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linear, konvergen,
tidak kreatif, dan tidak produktif.
h. Bagi
pendidik yang berpandangan agama sebagai landasan pendidikan anak manusia,
behaviorisme dianggap bukan landasan pendidikan yang ideal, sebab menurut
mereka aliran behaviorisme berciri pokok:
1. Bersifat
naturalistik yang menganggap dunia materi merupakan realitas sesungguhnya,
segala sesuatunya dapat diterangkan melalui hukum-hukum alam, manusia memiliki
jiwa dan juga pikiran, yang adanya hanyalah otak yang melakukan respon terhadap
stimulus eksternal;
2. Behaviorisme
mengajarkan bahwa manusia tidak lebih seperti mesin yang melakukam respon
terhadap kondisi rangsangan tertentu.
3. Secara
konsisten behaviorisme berpandangan bahwa kita tidak perlu bertanggung jawab
terhadap apa yang kita perbuat, karena kita hanya mesin yang melakukan
tanggapan terhadap berbagai rangsangan dari luar kita, tanpa pikiran dan jiwa,
kita bereaksi dilingkungan kita untuk mencapai tujuan tertentu.
3.
Dampak
Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran
Teori ini sampai saat ini masih merajai praktik dunia pendidikan di
Indonesia, dari usia dini samapi perguruan tinggi, metode mengajar dengan cara
drill untuk pembiasaan disertai dengan reinforcement dan hukuman masih sering
dilakukan.
Para ahli psikologi pendidikan sepakat bahwa pembelajaran menurut
konsep behaviorisme berlangsung dengan tiga langkah pokok, yaitu:
a. Tahap
akuisisi, tahap perolehan pengetahuan. Dalam tahap ini siswa belajar tentang
informasi baru;
b. Tahap
retensi, dalam tahap ini informasi atau keterampilan baru yang dipelajari
dipraktikan sehingga siswa dapat mengingatnya selama suatu periode. Tahap ini
juga disebut tahap penyimpanan (storage stage), artinya hasil belajar disimpan
untuk digunakan dimasa depan;
c. Tahap
transfer. Seringkali gagasan yang disimpan dalam memori sulit diingat kembali
saat akan digunakan di masa depan. Kemampuan untuk mengingat kembali informasi
dan menggunakannya dalam situasi baru (yaitu mentransfernya dalam pembelajaran
yang baru) tampaknya memang memerlukan bermacam-macam strategi, tetapi kelihatannya
amat bergantunng kepada ingatan kita terhadap informasi yang benar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran
terutama berupa dirasakan kurangnya memberi ruang gerak yang lebih bebas kepada
siswa, sehingga kurang dapat yang bereasksi, melakukan inovasi,
bereksperimentasi, melakukan eksplorasi untuk mengembangkan potensi dan
kemampuannya sendiri.
Behaviorisme
sering diterapkan oleh guru yang menyukai pemberian hadiah (reward) dan
hukuman (punishment) terhadap perilaku siswa. Salah satu pilar kekuatan
behaviorisme, yaitu taksonomi bloom yang sampai saat ini masih banyak digunakan
dalam perencanaan dan penilaian pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar