Kamis, 19 Maret 2020


Bab IV
Teori Belajar
A.    Teori Disiplin Mental
Teori ini menganggap bahwa dalam belajar harus didisiplinkan atau dilatih. Menurut rumpun  psikologi ini individu memiliki kekuatan, kemampuan, atau potensi potensi tertentu. Belajar merupakan pengembangan dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
            Teori disiplin mental ini kurang kuat pengaruhnya terhadap pendidikan dan pembelajaran, mungkin juga karena pengaruh sifat negativisme terhadap pendidikan seperti yang dipegang oleh penganjur aliran naturalisme. Di samping itu, sifat spekulatif dari teori-teori ini banyak mendapatkan kritikan dari para ahli pendidikan. Berbeda dengan konsep behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme.
B.     Behaviorisme
Aliran ini disebut dengan behaviorisme karena sangat menekankan kepada perlunya perilaku (behavior) yang dapat diamati. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu: (1) mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan respon, (5) menekankan pentingnya latihan.
Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam kegiatan belajar. Hal ini dapat dimaklum karena behaviorime berkembang melalui suatu penelitian yang melibatkan binatang seperti burung merpati, kucing, tikus, dan anjing sebagai objek. Peristiwa belajar semata-mata dilakukan dengan melatih refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa respon.
1.      Teori-Teori Belajar dalam Aliran Behaviorisme
a.       Connectionism (S-R Bond) menurut Edward Lee Thorndike
Beberapa hukum belajar yang dikemukakan Thorndike anatara lain:
1)   Law Of Effect (hukum efek), jika sebuah respon (R), menghasilkan efek yang memuaskan, maka ikatan anatra S (stimulus) dengan R (respon) akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai melalui respon, maka semakin lemah pula ikatan yang terjadi antara S-R. Artinya belajar akan lebih bersemangat apabila mengetahui akan mendapat hasil yang baik.
2)   Law Of Readness (hukum kesiapan), maknanya, suatu kesiapan (readness) terjadi berlandaskan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan suatu pengantar (conduction unit), unit-unit inilah yang menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Pada implementasinya, belajar akan lebih berhasil bila individu memiliki kesiapan untuk melakukannya.
3)   Law Of Exarcise (hukum latihan), hubungan antara S dengan R akan semakin bertambah erat jika sering dilatih dan akan semakin berkurang bila jarang dilatih. Dengan demikian belajar akan berhasil apabila banyak latihan atau ulangan-ulangan.
b.      Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov
Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu. Hukum belajar yang dikemukakan Pavlov:
1)    Law Of Respondent Conditioning, atau hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara serentak (dengan salah satunya berfungsi sebagai reinforcer) maka refleks dan stimulus lainya akan menigkat.
2)    Law Of Respondent Extinction, atau hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reiforcer, maka kekuatannya akan menurun.
c.       Teori Belajar menurut Edwin Guthrie
Hukum belajar yang dihasilkan dari penyelidikan adalah Law of Contiguity atau hukum hubungan. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan pada saat yang sama tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon baru.
Hubungan antara stimulus dan respons bersifat sementara. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar peserta didik  perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan antara S dengan R bersifat lebih kuat dan menetap.
d.      Teori Belajar menurut Clark Hull
Clark Hull adalah seorang bahavioris yang amat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup (struggle for existence). Oleh sebab itu, kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menepati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
e.     Operant Conditioning menurut B.F.Skinner
Objek penelitiannya, yaitu seekor tikus dan burung merpati. Hukum-hukum belajar yang dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1)   Law of Operant Conditioning, jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka ketentuan perilaku tersebut akan meningkat.
2)  Law of Operant Extinction, jika timbulnya periaku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan akan menghalangi.
f.        Teori Belajar Sosial (Social Learninng) menurut Albert Bandura
Melalui pembelajaran observasional yang disebut  modeling atau menirukan perilaku manusia model, Bandura mengambangkan teori pembelajaran sosial. Perilaku siswa pengamat dapat dipengaruhi oleh perilaku model dalam bentuk akibat-akibat positif (vicarious reinforcement, penguatan yang seolah-olah dialaminya sendiri) maupun dalam bentuk akibat-akibat negatif (vicarious punishment).
Proses modeling terjadi dengan beberapa tahapan sebagai berikut.
1)    Atensi (perhatian), jika ingin mempelajari sesuatu harus memperhatikannya dengan seksama, berkonsentrasi, jangan banyak hal yang mengganggu pikiran.
2)   Retensi (ingatan), kita harus mampu mempertahankan, mengingat apa yang telah diperhatikan dengan seksama tadi.
3)    Produksi, kita hanya perlu duduk dan berkhayal untuk menerjemahkan citraan atau deskripsi model ke dalam perilaku aktual. Aspek paling penting di sini adalah kemampuan kita berimprovisasi ketika kita membayangkan diri kita sebagai model.
4)   Motivasi, adanya dorongan atau alasan-alasan tertentu untuk berbuat meniru model. Ada tiga hal yang merupakan motivasi, yaitu: (i) dorongan masa lalu, (ii) dorongan yang dijanjikan (insentif) yang dapat kita bayangkan, dan (iii) dorongan-dorongan yang kentara (tangible), seperti melihat atau mengingat model-model yang patut ditiru.
2.      Kritis atas Teori Behavioristik
Ada sejumlah kritik yag disampaikan oleh para ahli kependidikan sehubungan dengan kelemahan yang melekat dalam teori behaviorisme. Di antara kritik-kritik itu sebagai berikut.
a. Behaviorisme tidak mengadaptasi berbagai macam jenis pembelajaran, karena mengabaikan aktivitas pikiran.
b.  Behaviorisme tidak mampu menjelaskan beberapa jenis pembelajaran, misalnya pengenalan terhdap pola-pola bahasa baru oleh anak-anak kecil, karena disini tidak ada mekanisme penguatan.
c.     Riset menunjukan bahwa binatang mampu mengadaptasikan pola penguatan mereka terhadap informasi baru.
d.    Sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, karena banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang  berperan terhadap perilaku siswa, tetapi pengaruh atau peranannya tidak sekedar hubungan stimulus-respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan S-R.
e.     Pandangan behaviorisme juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
f.    Padangan behaviorisme tidak memperhatikan pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang dapat diamati sebagai akibat hubungan S-R.
g. Pandangan behaviorisme cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linear, konvergen, tidak kreatif, dan tidak produktif.
h.    Bagi pendidik yang berpandangan agama sebagai landasan pendidikan anak manusia, behaviorisme dianggap bukan landasan pendidikan yang ideal, sebab menurut mereka aliran behaviorisme berciri pokok:
1. Bersifat naturalistik yang menganggap dunia materi merupakan realitas sesungguhnya, segala sesuatunya dapat diterangkan melalui hukum-hukum alam, manusia memiliki jiwa dan juga pikiran, yang adanya hanyalah otak yang melakukan respon terhadap stimulus eksternal;
2. Behaviorisme mengajarkan bahwa manusia tidak lebih seperti mesin yang melakukam respon terhadap kondisi rangsangan tertentu.
3.    Secara konsisten behaviorisme berpandangan bahwa kita tidak perlu bertanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat, karena kita hanya mesin yang melakukan tanggapan terhadap berbagai rangsangan dari luar kita, tanpa pikiran dan jiwa, kita bereaksi dilingkungan kita untuk mencapai tujuan tertentu.
3.      Dampak Teori Behaviorisme terhadap Pembelajaran
Teori ini sampai saat ini masih merajai praktik dunia pendidikan di Indonesia, dari usia dini samapi perguruan tinggi, metode mengajar dengan cara drill untuk pembiasaan disertai dengan reinforcement dan hukuman masih sering dilakukan.
Para ahli psikologi pendidikan sepakat bahwa pembelajaran menurut konsep behaviorisme berlangsung dengan tiga langkah pokok, yaitu:
a.   Tahap akuisisi, tahap perolehan pengetahuan. Dalam tahap ini siswa belajar tentang informasi baru;
b.   Tahap retensi, dalam tahap ini informasi atau keterampilan baru yang dipelajari dipraktikan sehingga siswa dapat mengingatnya selama suatu periode. Tahap ini juga disebut tahap penyimpanan (storage stage), artinya hasil belajar disimpan untuk digunakan dimasa depan;
c.  Tahap transfer. Seringkali gagasan yang disimpan dalam memori sulit diingat kembali saat akan digunakan di masa depan. Kemampuan untuk mengingat kembali informasi dan menggunakannya dalam situasi baru (yaitu mentransfernya dalam pembelajaran yang baru) tampaknya memang memerlukan bermacam-macam strategi, tetapi kelihatannya amat bergantunng kepada ingatan kita terhadap informasi yang benar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran terutama berupa dirasakan kurangnya memberi ruang gerak yang lebih bebas kepada siswa, sehingga kurang dapat yang bereasksi, melakukan inovasi, bereksperimentasi, melakukan eksplorasi untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya sendiri.
Behaviorisme sering diterapkan oleh guru yang menyukai pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment) terhadap perilaku siswa. Salah satu pilar kekuatan behaviorisme, yaitu taksonomi bloom yang sampai saat ini masih banyak digunakan dalam perencanaan dan penilaian pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar